Monday, 21 August 2017

The ‘Wanita Premanisme’

Sabtu, 20 Mei 2017 — 6:44 WIB
wanita-palu

MAN man preman preman! Itu sepenggal syair lagu ‘Preman’ Ikang Fauwzi yang ngetop pada jamannya. Preman, waktu itu sekitar tahun 80-an, ya sekadar gaya hidup anak muda, yang tampil beda.

Tapi, perkembangannya bahwa preman menjadi melekat pada orang-orang yang suka membuat kejahatan. Sekarang ini banyak preman yang gentayangan di mana-mana. Di jalanan, di jembatan nongkrong di tempat-tempat tertentu sambil minum miras oplosan, mabuk, dan memeras atau membegal. Ada juga yang keluyuran memeras warga yang sedang membangun. Nggak jelas dari mana awalnya, kok para preman itu bisa minta ‘pajak’ pada orang yang sedang membangun?

Nah, ngomong-ngomong soal preman, ternyata julukan itu juga disandang oleh kaum perempuan. Seperti kasus yang terjadi di Ciledug, beberapa waktu lalu, empat cewek ‘preman’ menganiaya gadis ABG sampai babak belur. Kayaknya karena sudah punya emebel-embel serem itu, mereka juga melakukan aksinya dengan sadis. Menelenjangi dan menyundut korbannya pakai bara api rokok !

Waduh, bagaimana ini? Yang dimaksud dengan emansifasi oleh Kartini bukan yang begini ini. Persamaan hak, betul. Tapi hak yang dimaksud adalah yang semestinya dan pantas dilakukan untuk perempuan. Misalnaya dalam rumah tangga, perempuan punya hak yang sama dengan lelaki, hak asuh anak sampai sama-sama mencari nafkah.

Dalam bisnis, perempuan juga bisa jadi direktur utama, direktur perusahaan membawahi laki-laki, dalam politik pun begitu. Boleh jadi pemimpin partai. Banyak wanita yang jadi bupati, walikota, gubernur dan Presiden.

Nah, dalam bidang kejahatan mafia, premanisme, kalau bisa wanita nggak usahlah ambil bagian. Oke, Mom? – massoes