Sunday, 17 December 2017

Jika Tukang Mabok Eks Kekasih Istri pun Dicurigai

Senin, 22 Mei 2017 — 6:05 WIB
gertok

BIAR tukang mabok Sutopo, 31, ini kan seiman. Maka keluarga sangat mendukung perkawinan Rini, 27, dengannya. Tapi dasar tukang mabok, bekas pacar istripun selalu dicurigai. Hanya asyik ngomong berdua saja sudah dianggap ancaman. Margono, 30, pun selalu diintimidasi, sehingga terpaksa dilaporkan ke polisi.

Biar namanya pacar, jika belum jodoh tidak akan sampai ke pelaminan. Sebaliknya yang tidak pernah pacaran sekalipun, karena memang jodoh, jadi juga menjadi suami istri. Ini namanya “kuda hitam”. Kenapa disebut demikian, karena hanya dialah yang kemudian bisa menunjukkan tenaga kudanya di atas ranjang, dalam hubungan suami istri.

Sutopo warga Godean, Yogyakarta, termasuk mujur sebagai lelaki muda. Pekerjaan tidak jelas, hobinya mabuk-mabukan, tapi karena anak orang kaya, dia bisa mempersunting Rini, gadis tetangga desa. Ditambah lagi Sutopo-Rini tersebut seiman, sehingga orangtua dan timsesnya sangat mendorong. “Soal Sutopo tukang mabok, gak madalah nduk. Yang penting kalian seiman….,” kata bapak Rini beberapa tahun lalu.

Rini memang tergolong cantik di kelasnya, sehingga banyak pemuda yang mengincarnya. Dari sekian kontestan, paling mujur nasib Margono, warga Keparakan Lor, Yogyakarta. Cintanya diterima Rini tanpa reserve, tanpa seleksi pansel segala. Namanya juga orang pacaran, ke sana kemari selalu berdua-dua, bagaima Rama dan Sinta. Entah kenapa tak segera didaftarkan ke KUA dan naik ring sebagai suami istri.

Adalah Sutopo, sekali melihat Rini, dia langsung ngebet banget untuk berkoalisi dan kemudian eksekusi. Menurut infonya, Rini sudah punya pacar, jadi tak mungkinlah. Tapi rupanya Topo tidak mau menyerah begitu saja. Prinsipnya: sepanjang belum ada janur kuning melengkung di rumah si gadis, peluang selalu terbuka.

Kebetulan orangtua Topo kenal baik dengan orangtua Rini, maka lobi-lobi tingkat atas pun dilakukan, dibantu tim sinkronisasi. Maksudnya, tim yang bertugas menyatukan visi dan misi antara kubu Rini dan kubu Topo. Timsesnya pun bekerja keras. Biar Rini sudah punya pacar, kampanye hitam dilakukan untuk mendiskreditkan Margono. “Margono ini omongnya kasar, tidak santun. Beda dengan Topo, biar tukang mabok tapi santun. Sedang mabuk saja santun, apa lagi dalam kondisi tidak mabuk……” ujarnya.

Keluarga Rini berikut jajarannya lama-lama terpengaruh, apa lagi selalu ada “kampanye” dari rumah ke rumah bahwa orangtuanya kaya dan Topo merupakan anak tunggal. Nanti kan semua aset jadi milik dia sendiri. Hanya dalam tempo sebulan elektabilitas Sutopo sudah demikian melejit, sementara Margono makin terkikis pendukungnya.

Akhirnya Rini setuju dipersunting Topo dan kemudian mereka resmi menjadi suami istri. Celakanya, meski sudah punya anak pun, Topo selalu curiga bahwa suatu saat Margono akan comeback lagi, sehingga meski dia juga sudah menikah pula, tetap dianggap sebagai klilip (musuh). Sejak itu Topo selalu mengembangkan budaya curiga.

Beberapa hari lalu dia melihat Margono main ke kampungnya dan terlihat dia ngobrol asyik dengan Rini eks kekasihnya. Langsung Topo cemburu hebat. Dasarnya baru mabok, dia segera mengajak sejumlah temannya untuk memberi pelajaran pada Margono. Tanpa tanya ini dan itu langsung saja digetok pakai gagang pistol lalu ditakut-takuti dengan clurit. Keruan saja Magono merasa terancam, lalu lapor polisi dan Topo pun ditangkap.

Baru sekedar bergaul saja panik, apa lagi sampai menggauli. (KR/Gunarso TS)