Thursday, 24 August 2017

Menahan Nafsu Selalu

Sabtu, 27 Mei 2017 — 6:10 WIB
puasa

Oleh S Saiful Rahim

“ALHAMDULILLAH kita ketemu bulan penuh berkah lagi,” kata Dul Karung sambil melemparkan pantatnya ke bagian yang kosong pada bangku panjang. Satu-satunya tempat duduk bagi pengunjung warung kopi Mas Wargo.

“Ramadan memang bulan yang berkah, tapi bagi mereka yang berpuasa. Apakah kau puasa, Dul?” tanya orang yang duduk di ujung kiri bangku panjang.

“Puasa itu bukan untuk diteriakkan agar semua orang tahu, tapi untuk dilaksanakan dengan diam-diam. Kata Guru Marzuki, guru mengajiku dulu, puasa hanya urusan kita dengan Allah. Gak perlu orang tahu,” jawab Dul Karung sambil mencomot singkong goreng yang masih kebul-kebul.

“Jadi gak perlu lagi pasang spanduk, flakat dan sejenisnya yang bertuliskan, “Hormatilah orang puasa,” sambar orang yang duduk tepat di samping Dul Karung, yang sebelumnya telah bergeser memberi tempat Si Dul duduk.

“Ya tentu saja tidak perlu. Orang yang berpuasa dengan benar itu sudah dihormati oleh Allah Swt. Kecuali dia berpuasa dengan niat mencari simpati calon mertua, atau bos dan teman-teman kerja di kantor, supaya dianggap alim dan tidak korupsi,” sambung orang yang mengenakan baju koko dan berkopiah, yang duduk selang tiga di kanan Dul Karung.

“Dalam buku A Study of History, sejarawan Inggris Arnold Toynbee, menunjukkan eratnya hubungan antara nilai-nilai spiritual dengan kebangkitan bangsa dan peradaban. Artinya, keberagamaan itu perannya sangat potensial dalam hal kebangkitan bangsa. Jadi, bangsa-bangsa yang beragama dengan baik adalah bangsa-bangsa yang mampu bangkit kapan saja,” kata orang yang berpakaian necis dan berpenampilan cerdas, yang duduk di ujung kanan bangku panjang.

Beberapa hadirin yang menolehkan wajah ke arah orang itu merasa belum pernah melihat wajah itu sebelumnya. Dan mereka juga merasa omongan orang tersebut bukan omongan kelas warung kopi kaki lima seperti milik Mas Wargo itu.

“Mumpung kita baru memasuki bulan mulia Ramadan, saya ingin bertanya, menurut Bapak bagaimana keberagamaan bangsa kita sekarang?” tanya Dul Karung kepada orang yang dirasanya bukan orang sembarangan itu. Beberapa hadirin pun mengangguk-angguk mendukung pertanyaan Si Dul.

“Ini salah satu hal yang sangat saya kuatirkan,” jawab orang itu dengan suara dan sikap yang masgul.

“Saya lihat keberagamaan bangsa kita sekarang lebih banyak ditekankan aspek formal dan ritual daripada mengembangkan esensi ajarannya. Mempermegah tempat ibadah, bukan mempertinggi atensi kepada fuqara, orang-orang yang haus bantuan. Orang-orang bukan menuju ibadah yang saleh, tapi bergerak ke arah ibadah yang salah. Seseorang yang baru saja korupsi merasa dapat “memutihkan” dosa-dosanya dengan umrah. Orang yang berkoar-koar teriak hanya takut kepada hukum Allah, tapi tidak berani ke kantor polisi sekadar untuk mengklarifikasi apa yang menjadi pembicaraan orang tentang dirinya. Orang memuji dan memuja insan pembual daripada insan pekerja,” sambung orang yang berpenampilan intelek itu, dan lagi-lagi disambut anggukan orang-orang yang mendengarnya. Entah mereka paham atau tidak yang dikatakan si berpenampilan intelek.

“Yaaaa, mudah-mudahan selepas puasa tahun ini bangsa kita yang mayoritas Islam dapat hidup senantiasa dengan menahan nafsu. Allah berharap hamba-Nya yang berpuasa akan mampu naik meniti tangga menuju takwa. Dan Rasul-Nya bersabda, beliau diutus Allah terutama untuk membuat akhlak pengikutnya mulia. Bismillah, mari kita memulainya bersama,” kata Dul Karung membuat pendengarnya tertegun karena tumben omongannya benar. (syahsr@gmail.com )*