Monday, 19 November 2018

Bijak Gunakan Medsos Cegah Aksi Persekusi

Sabtu, 3 Juni 2017 — 4:56 WIB

ISTILAH persekusi tiba – tiba menjadi populer menyusul beredarnya video terkait aksi sejumlah orang terhadap anak remaja di Cipinang Muara, Jakarta Timur, baru – baru ini. Dalam video yang beredar di media sosial terlihat remaja lelaki berusia 15 tahun disuruh meminta maaf dan membuat surat pernyataan karena dituduh telah menghina ormas tertentu dan seorang ulama yang diunggah melalui akun Facebook pribadinya. Terlihat juga adanya aksi kekerasan fisik. Aksi ini yang kemudian disebut sebagai persekusi.

Polda Metro Jaya cepat bertindak dengan menangkap dua tersangka pelaku dan mengevakuasi korban persekusi beserta keluargnya ke tempat yang lebih aman ( safe house).

Kasus berawal dari sebuah unggahan di facebook dari seorang remaja berusia belasan tahun. Dampak dari cuitan mendapat respons dari sekelompok orang yang merasa terganggu. Secara kebetulan bentuk respons kelompok tersebut terekam melalui video yang tersebar luas melalui media sosial ( medsos).

Kita sependapat bahwa merespons postingan, cuitan seseorang di media sosial adalah hal yang lazim terjadi sebagai bentuk interaksi dalam dunia maya.Tetapi menjadi tidak lazim jika dilakukan berlebihan, apalagi sudah menjurus kepada intimidasi, pemaksaan dan kekerasan fisik.

Bentuk respons berlebihan seperti itulah yang kemudian disebut sebagai persekusi karena dinilai telah melanggar hukum.

Mengacu kepada Kamus Besar Bahasa Indonesia ( KBBI),persekusi memiliki arti (pemburuan sewenang-wenang terhadap seorang atau sejumlah warga dan disakiti, dipersusah, atau ditumpas). Dalam bahasa yang lebih sederhana dapat dikatakan aksi main hakim sendiri mulai dari kata – kata hingga berbentuk tindakan fisik.

Aksi main hakim sendiri apapun alasannya memang tidak dilegalkan. Jika merasa terganggu atas postingan di media sosial sebaiknya direspons di media yang sama, tentu saja dengan penuh etika agar respons balasan tidak sampai melanggar etika, apalagi pelanggaran pidana. Ini langkah simpatik sebagai bentuk interaksi sosial, sebut saja musyawarah mufakat melalui dunia maya.

Jika terdapat jalan buntu, baru diselesaikan melalui jalur hukum dengan melaporkan dugaan penghinaan atau perbuatan tidak menyenangkan itu kepada kepolisian.

Dalam konteks ini aksi persekusi harus dihindari. Kita punya kewajiban yang sama untuk mencegahnya. Caranya lebih bijak dalam memberikan komen di media sosial. Gunakan kata yang lebih santun dan beretika untuk menunjukkan kita bangsa yang cerdas, berkualitas dan bermoral. Kalau tidak paham dan tak mengerti duduk persoalan atas postingan, lebih baik tidak perlu komen.

Karena itu lebih bijak gunakan medsos,mulailah dengan aksi yang santun dan simpatik untuk menutup embrio persekusi. (*).