Tuesday, 25 September 2018

Khawatir Diceraikan Suami Anak Kandung jadi “Tumbal”

Senin, 5 Juni 2017 — 5:18 WIB
biadab

INI kisah ibu paling kejam di Bengkulu. Khawatir diceraikan suami karena tak punya anak, Ny. Wajilah, 37, tega mengorbankan putri kandungnya, untuk jadi budak seks suaminya, Wahono, 45. Tentu saja si anak tidak terima, sehingga tindakan biadab ibu dan bapak tirinya dilaporkan ke polisi dan kini ditahan.

Menikah bertahun-tahun hasilnya keringatan doang tanpa keturuan, ancaman bagi rumahtangga. Umumnya kaum suami menyalahkan istri yang tidak produktif. Padahal belum tentu. Bisa saja lelaki yang tak memiliki bibit unggul. Tapi umumnya kaum suamilah yang kemudian memojokkan bini dengan ancaman: mau kawin lagi. Paling sadis, “Tak ceraikan kamu!”

Rumahtangga Wajilah-Wahono warga Semidang Alas (SA), Bengkulu, dalam persimpangan jalan. Mereka sudah menikah lebih dari lima tahun, tapi belum juga momongan. Padahal sebagai suami, minimal Wahono menafkahi batin istri dua kali seminggu sesendok makan. Sayang, hasilnya hanya keringatan doang!

Berbagai upaya sudah dilakukan, hasilnya nihil. Wahono pun mulai cemas, jika kelak tidak memiliki keturunan. Lalu bagaimana sejarah dinasti Wahono nanti? Mumpung belum terlambat, dia segera mewacanakan untuk menikah lagi. Bagaimana dengan bininya sekarang? Ya gampanglah, diceraikan kan bisa saja. Buat apa dipertahankan lama-lama? Pabrik saja jika sudah tak produksi banyak yang dijual.

Bagi sang istri, menikah tanpa anak tak begitu jadi masalah. Sebab dengan suami pertama sudah berhasil punya anak, Wartini, 16, anak semata wayangnya. Bocah ABG itu kini juga ikut dengannya, menjadi anak tiri Wahono yang terus berburu anak kandung, asli produksi dalam negeri dan berstandar SII.

Wajilah pernah menghibur suami, agaknya tak punya anak sendiri, sudah takdir Illahi. Karenanya, anak tirinya tersebut anggap saja anak kandung. Tapi Wahono bersikeras untuk mencari keturunan, yang merupakan darah daging sendiri. “Jadi kamu tinggal pilih, saya poligami, atawa kamu saya ceraikan untuk bisa nikah lagi.” Ancam Wahono tanpa basa-basi.

Ini sungguh pilihan sulit bagi Wajilah. Diceraikan, berarti akan kehilangan sumber ekonomi sehari-hari, sebab sebagai istri selama ini dia sekedar mamah dan mlumah. Bila dipoligami, dia juga tak siap bisa berdampingan dengan madunya. Apalagi jarang sekali suami yang bisa adil pada para istrinya. Onderdil yang tak perlu kulakan, mungkin iya. Tapi materil, ini yang sulit diukur.

Tak siap dengan implikasi kedua opsi tersebut, Wajilah gantian memberikan opsi gila. Bila suami sebetulnya sekedar mencari kepuasan biologis, bolehlah Wartini anak tirinya itu dijadikan pemuas nafsu. Ternyata Wahono tertarik juga pada opsi nyeleneh bin ajaib tersebut. “Kalau itu maumu, terserah. Tapi aku nggak maksa lho.” Kata Wahono sok alim.

Tapi rupanya Wartini tak sudi dijadikan “tumbal” untuk kepentingan ayah tirinya. Ibunya sudah mencoba melobi dengan berbagai cara, tapi si anak tetap menolak, sedangkan Wahono terus mendesak kapan bisa eksekusi. Saking kebingungan dan stress, beberapa hari lalu Wajilah membiarkan Wartini diperkosa ayah tirinya, bahkan ibu kandung bejad itu memegangi kaki putrinya, agar suami bisa bekerja dengan sempurna. Tapi akibat kelakuan suami istri ini Wartini segera mengadu ke polisi, dan keduanya ditangkap.

Kayak ngawinin kambing saja, perlu dipegangi segala. (JPNN/Gunarso TS)