Sunday, 17 February 2019

Makna Keimanan Dalam Syahadat

Selasa, 6 Juni 2017 — 1:04 WIB
Dr.Azizah MA

Dr.Azizah MA

Assalamualaikum warahmatullhohi Wabarkatuh. Pembaca poskotanews.com yang dimuliakan Allah.

BERIMAN tidak bisa setengah-setengah dan sewaktu-waktu, melainkan sebaliknya beriman harus bersifat total (kaffah), tidak memilah milih, mengimani hanya yang disenangi dan menolak yang tidak sesuai dengan pendapat dan keinginan kita.

Orang yang memilah-milih dalam keimanan, bukannya mendapat pahala dari Allah SWT melainkan kehinaan di dunia dan azab yang sangat pedih di akhirat. (QS. Al-Baqarah (2) : 85).

Beriman tidak boleh hanya sewaktu-waktu, kapan mau dan disenangi seperti “menggenggam bara, ketika panas dilepaskan”. Beriman harus berkesinambungan (kontiniu) dan konsisten (istiqomah).

Pentingnya kontiniu dan istiqomah tergambar dalam hadits bahwa seorang sahabat, Sufyan bin Abdillah al-Tsaqafi, berkata kepada Rasulullah SAW. : “Wahai Rasulullah, ajarkanlah kepadaku dalam (agama) Islam ini satu kalimat, yang dengan kalimat itu, aku tidak perlu lagi bertanya tentang Islam kepada orang lain setelah Engkau”. Rasulullah SAW. bersabda : “Katakanlah : “Aku beriman kepada Allah”, kemudian istiqomahlah dalam ucapan itu.” (H.R. Ahmad).

Unsur terpenting dari keimanan adalah seperti tergambar dalam dua kalimat syahadat, yang berbunyi : “Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang pantas disembah kecuali Allah, dan bahwa Nabi Muhammad adalah Rasul (utusan) Allah.”

Kalimat syahadat pertama pada hakikatnya merupakan pernyataan/sumpah dan pengakuan/kesaksian kita bahwa kepatuhan, ketundukan dan penyerahan seluruh hidup dan kehidupan kita hanyalah kepada Allah, tidak kepada apapun dan siapapun selain Dia.

Hanya Dia yang menghidupkan dan mematikan, memberi manfaat dan mudharat. Tidak ada kekuatan apapun yang dapat mempengaruhi keputusan dan kekuasaan-Nya. Dia yang meluaskan dan menyempitkan rezeki. Dia-lah yang menciptakan dan mengatur alam semesta.

Adapun kalimat syahadat yang kedua mengandung makna pengakuan dan pernyataan kita bahwa semua risalah yang disampaikan Nabi Muhammad SAW adalah kebenaran (al-haq) yang bersumber dari wahyu Allah.
Oleh karena itu, kita menyatakan patuh dan tunduk semua ajaran yang disampaikan Nabi Muhammad, sebagaimana yang terdapat dalam sunnah beliau.
Saudaraku…

Pernyataan keimanan dan pengakuan kita tersebut baru dapat dikatakan benar, apabila kita dapat mewujudkannya dalam bentuk perbuatan nyata. Melaksanakan ibadah Ramadhan, contohnya, kita mengikuti seluruh tata cara, waktu, dan semua rukun dan syarat puasa yang diajarkan Nabi SAW.

 

Nasrum Minallah Wa Fathun Qorib
Wabasyiril mukminin
Wassalamualaikum Warahmatullohi Wabarkatuh

Dr. Azizah MA
* Ketua Umum Pimpinan Pusat Muslimat Al Washliyah
* Dosen Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta