Friday, 16 November 2018

Kencan Jauh-jauh ke Jepang Masih Ketahuan Suami Juga

Kamis, 15 Juni 2017 — 6:00 WIB
sama-sama

BAGI kalangan orang berduit, dunia itu terasa begitu sempit. Bayangkan, Sawitri, 42, sengaja mesum bersama PIL-nya di Jepang. Eh, di hotel yang sama Budi, 48, suami Sawitri juga kepergok bawa WIL dari Indonesia. Sadar rumahtangga sudah sama-sama ancur-ancuran, keduanya pun memutuskan untuk bercerai.

Bagi kalangan modal cekak, jika punya PIL maupun WIL mainnya pastilah nggak jauh-jauh, paling hanya di luar kota, bukannya di luar negeri. Tapi untuk mereka yang berkantong tebal, untuk selingkuh pun harus go internasional. Dalam asumsinya, takkan ketahuanlah wong di luar negeri. Tapi jika Allah akan membuka aib umatnya, itu bukan perkara sulit. Di luar negeri pun: oh, oh…..ketahuan!

Awalnya rumahtangga Budi – Sawitri bahagia nan sejahtera. Budi merupakan pengusaha sukses di Surabaya. Cuma saking suksesnya, dia sibuk sendiri dengan usahanya, dan lupa mengajak istri jalan-jalan ke luar negeri. Nggak tahunya, jika ke luar negeri Budi justru mengajak sekretarisnya yang menjadi dwi fungsi dalam kehidupan sehari-harinya. Dia tak hanya melayani urusan perkantoran, tapi juga melayani urusan ranjang.

Ketika mendengar pengkhianatan suami, Sawitri tak berani menegur, apa lagi menggelar angket dan pansus. Yang dilakukan justru dengan balas dendam. Selingkuh harus dibalas dengan selingkuh. Maka ketika salah seorang mitra bisnis suami tertarik padanya, diam-diam ditanggapi saja. Wisnu, 40, juga lebih muda dan ganteng pula. Beda dengan suami. Dia hanya menang rejeki kota, tapi tampang sesungguhnya desa. Pakai sepatu harga Rp 350.000,- saja tidak pantes, apa lagi sepatu model Jokowi seharga Rp 2 juta, makin wagu (jelek).

Seperti lazimnya orang pacaran, dia juga ingin berjalan berdua-dua saja dengan si doi. Tapi Sawitri tidak berani di seputar Surabaya dan kota-kota di Indonesia lainnya. Banyak hotel yang menjadi jaringan suami, sehingga dikhawatirkan mudah terdeteksi. Karenanya, sekali mau mesum ya di luar negeri saja sekalian. Ternyata Wisnu tidak keberatan, karena dia memang juga orang berduit.

Keduanya pun berlibur ke Negeri Sakura. Di Tokyo menginap di sebuah hotel berbintang. Tapi nggak dinyana nggak diduga, di lorong kamar hotel Sawitri dipergoki suami yang juga sedang membawa sekretarisnya. Sama-sama terkejut, tapi karena lelaki Budi lebih bisa menguasai keadaan. Buktinya, ketika Sawitri minta maaf, dengan suara tegas dan berat Budi bilang, “Tak ada maaf bagimu, dan proses hukum jalan terus,” kata Budi seakan terkontaminasi Pilkada di Jakarta.

Insiden di lorong hotel bisa diselesaikan dengan damai. Tapi setibanya di tanah air, mereka akan menyelesaiakannya secara hukum. Baik Sawitri maupun Budi sadar bahwa rumahtangga yang dibina sekian lama sudah ancur-ancuran, tak bisa diperbaiki lagi. Maka Budi dan Sawitri pun mendatangi Pengadilan Agama Surabaya, untuk mendaftarkan gugatan perceraiannya.

Saat sidang berlangsung, majelis hakim sebetulnya menyarankan agar niat itu diurungkan. Tapi Sawitri bersikukuh, karena suami juga tak mau memaafkan. Begitu juiga Budi, dia sama sekali tak menyesal kehilangan Sawitri, karena sang sekretaris siap menggantikannya sebagai permaisuri dalam rumahtangga. “Hari ini putus, bulan depan saya bisa resmi sama dia,” kata Budi optimis.

Jangan jumawa, jika Yang Di Atas menentukan lain, gimana? (JPNN/Gunarso TS)