Saturday, 24 June 2017

Mas Wargo Mudik

Sabtu, 17 Juni 2017 — 6:07 WIB
dumudik

Oleh S Saiful Rahim

“PEKAN depan tutup lima hari. Mudik!” Demikian tulisan pada secarik kertas folio yang ditempelkan di pintu masuk warung kopi Mas Wargo. Semua orang yang ingin masuk ke warung pun terpikat pandangannya pada tulisan itu. Tidak terkecuali Dul Karung yang dapat membaca berkat masa Orde Lama dulu sering ada aksi pemberantasan buta huruf di tengah jalan.

Caranya cukup unik. Sejumlah petugas yang membangun pos darurat di pinggir jalan, menghentikan siapa saja yang lewat. Lalu satu per satu orang tersebut disuruh membaca tulisan pendek yang mendadak ditulis di papan tulis. Yang dapat membaca dipersilakan meneruskan perjalanannya. Yang tidak dapat membaca diajarkan satu demi satu huruf yang terangkai menjadi satu dua kata. Setelah dianggap mampu membaca, baru diizinkan meneruskan perjalanan.

“Kok tumben mudik, Mas? Banyak untung atau takut warung Mas Wargo dijadikan lokasi OTT oleh petugas KPK yang makin jadi bulan-bulanan anggota DPR?” tanya orang yang masuk beriringan dengan Dul Karung.

“Wah, kalimat yang Bung gunakan itu sudah tergolong kalimat persekusi terhadap anggota DPR yang terhormat,” sambar orang yang duduk di dekat pintu masuk warung seraya bergeser memberi tempat duduk kepada Dul Karung dan orang yang baru masuk bersamanya.

“Kukira bukan itu penyebab Mas Wargo mau mudik. Tetapi karena dia melihat makin banyak perusahaan, baik BUMN maupun swasta, yang menyediakan angkutan mudik Lebaran gratis untuk karyawannya, Bahkan lembaga pemerintah seperti Departemen Perhubungan pun menyediakan angkutan Lebaran gratis kepada siapa saja yang membutuhkannya. Bukan hanya untuk karyawannya semata,” kata Dul Karung dengan sikap agak sok tahu.

“DPR yang katanya gudang wakil rakyat apa yang diperbuat terhadap rakyat yang, kalau kata orang Betawi, sungsang sumbel mau mudik setiap tahun itu?” sela entah siapa dan duduk di sebelah mana.

“Aku mau mudik tahun ini bukan karena ingin menumpang angkutan Lebaran gratis, tetapi ingin melihat bagaimana kelancaran jalur mudik setelah banyak jalan baru, bahkan jalan tol, disiapkan oleh pemerintah. Aku ikhlas naik bus umum dengan harga karcisnya yang pasti dinaikkan demi melihat seberapa jauh kemudahan yang diberikan pemerintah kepada rakyatnya yang mau mudik,” kata Mas Wargo yang jarang ikut ngobrol bersama para pelanggan warungnya.

“Lha itu mah bukan tugas penjual kopi kakilima, tapi kewajiban anggota DPR. Itu kan termasuk mengontrol kinerja pemerintah,” sergah orang yang berpakaian necis dan duduk di ujung kiri bangku panjang yang cuma semata wayang di warung itu.

“Seperti juga semua rakyat Indonesia, Mas Wargo pun tahu bahwa anggota DPR yang terhormat itu sedang sibuk mencari upaya agar KPK gak bisa berdiri lagi. Jadi urusan atau kewajiban lain beliau abaikan,” kata orang yang entah siapa dan duduk di sebelah mana lagi, membuat sebagian besar hadirin tersenyum dikulum. Bahkan beberapa di antaranya tertawa lepas.

“Eh tunggu dulu. Aku salah ngomong,” potong Mas Wargo. “Aku mudik bukan akan mengontrol kinerja pemerintah, tapi karena pelanggan warungku banyak yang mudik, pasti pada hari-hari sekitar Lebaran pengunjung warung ini sepi,” sambung Mas Wargo dengan amat tergopoh-gopoh.

“Astaghfirullah. Mas Wargo takut dapat angket DPR nih,” kata Dul Karung seraya ngeloyor meninggalkan warung kopi Mas Wargo yang kembali riuh oleh suara tawa. (syahsr@gmail.com )*