Friday, 18 August 2017

Imam Lindungi Tersangka Serangan Dekat Masjid Finsbury Park dari Amukan Massa

Senin, 19 Juni 2017 — 22:49 WIB
Imam Mohammed Mahmoud memberikan keterangan kepada media.

Imam Mohammed Mahmoud memberikan keterangan kepada media.

INGGRIS- Langkah seorang imam banyak dipuji karena melindungi tersangka serangan di dekat masjid Finsbury Park, London, Inggris dari kemarahan massa setelah ia menabrak jemaah yang habis salat tarawih dengan korban satu orang meninggal dan 10 lainnya luka-luka.

Delapan orang dibawa ke rumah sakit setelah “serangan teroris”, kata polisi setelah minibus menabrak jemaah yang baru selesai beribadah. Seorang pria berusia 48 tahun ditahan sebagai tersangka percobaan pembunuhan. Polisi juga mengatakan semua korban adalah Muslim.

Seorang saksi mata Abdul Rahman mengatakan ia mendengar supir minibus itu menyebutkan ia ingin “membunuh semua Muslim”. Rahman mengatakan kepada BBC ia termasuk di antara massa yang ikut menangkap pria itu.

Saksi mata lain mengatakan tersangka penyerang itu mungkin dapat terluka atau terbunuh bila imam Mohammed Mahmoud tidak turun tangan mengamankannya dari keroyokan massa.

“Ia mencoba melarikan diri namun kami menangkapnya. Ia bisa mati karena banyak orang yang memukulnya namun imam keluar dan mengatakan, ‘jangan pukul lagi, jaga dia sampai polisi datang,” kata saksi Abdul kepada the Independent.

JK Rowling menangis
“Saat ia kami tahan, ia tertawa dan tersenyum dan meneriakkan tentang Muslim. Saya tak mau mengatakan apa yang ia katakan namun ia menyebutkan hal yang membuat orang ingin memukulnya,” tambahnya.

Banyak pengguna media sosial yang memuji langkah imam Mahmoud termasuk penulis buku Harry Potter, JK Rowling.

jkrowing

“Itulah Islam dalam prakteknya,” kata pengguna media sosial lain, Abdul Rasheed Isah‏ @madari2four, dan yang lain menulis, “Saya katakan dialah orang yang hebat, Islam ataupun bukan.”

“Menurut saya dialah orang hebat yang mementingkan nyawa orang,” tulis yang lain.

Toufik Kacimi, ketua Muslim Welfare House, mengatakan “keberanian dan langkah Mahmoud “membantu menenangkan situasi setelah insiden itu dan mencegah kemungkinan jatuhnya lagi korban yang cedera atau meninggal.”

Wakil asisten komisaris Polisi Metropolitan London, Neil Basu mengatakan “serangan teroris” dimulai saat satu minibus menabrak pria yang tengah diberikan pertolongan pertama oleh publik di pinggir jalan.

“Sedihnya pria itu telah meninggal. Terlalu awal untuk menyatakan apakah kematiannya akibat serangan ini.”

Inilah serangan teror keempat di Inggris dalam empat bulan, setelah insiden di Westminster, Manchester dan London Bridge.

Islamfobia meningkat

Dewan Muslim Inggris, The Muslim Council of Britain (MCB) mengatakan kejadian ini “yang paling keras sejauh ini” terkait insiden Islamophobia.

“Kami harapkan pemerintah akan meningkatkan keamanan di luar masjid-masjid sebagai suatu yang mendesak,” kata organisasi ini.

“Apa yang kita lihat adalah banyak ekstremis sayap kanan menggunakan terminologi menghilangkan Muslim, menyerang Muslim. Kami mengalami bom molotov dilempar ke masjid-masjid.”

“Inilah sesuatu yang terjadi dan meningkat sejak lama dan kami berada di situasi di mana lebih 50% penduduk Inggris merasa Islam adalah ancaman bagi peradaban Barat, lebih dari 30% anak-anak beranggapan Muslim mengambil alih Inggris.”

Wali Kota London, Sadiq Khan mengatakan polisi tambahan dikerahkan untuk meyakinkan komunitas, khususnya mereka yang melaksanakan ibadah Ramadan.

Wartawan BBC Dominic Casciani, mengatakan insiden ini “bukan yang pertama dengan Muslim sebagai sasaran tindakan terorisme di Inggris.”

“Ancaman dari kelompok ekstrem kanan meningkat tahun-tahun terakhir ini – 16% penahanan akibat teror sampai bulan Maret tahun ini diklasifikasikan sebagai ‘ekstremisme dalam negeri’.”

“Mereka yang melakukan tindak kekerasan mencari target Muslim yang jelas, seperti masjid-masjid,” kata Casciani.

Uskup Agung Canterbury menulis melalui akun Twitternya bahwa serangan di Finsbury Park ini merupakan “Serangan terhadap kita semua dan budaya serta nilai-nilai negara kita.” (BBC)