Friday, 18 August 2017

Kakak Beradik Tewas di Pantai

Senin, 19 Juni 2017 — 20:26 WIB
Polisi tunjukkan tempat penemuan mayat

Polisi tunjukkan tempat penemuan mayat

LAMPUNG (Pos Kota) – Identitas dua mayat laki-laki yang ditemukan di tempat terpisah di perairan Telukbetung Selatan, Senin (19/6/2017) akhirnya terungkap. Ternyata keduanya, adalah kakak beradik yang pergi dari rumah untuk mencari barang bekas pemulung.

Keduanya adalah, Aris Munandar (19) dan Satria Afreza (10) pelajar SDN 1 Way Laga, warga Kelurahan Way Laga, Kecamatan Panjang.

Menurut Kapolsekta Telukbetung Selatan, Kompol Listiyono Dwi Nugroho melalui Kanit Reskrim, Aiptu Asep Komarudin dua mayat lakai-laki yang ditemukan secara terpisah di perairan Telukbetung tersebut identitasnya diketahui setelah keluarga korban datang ke Mapolsekta dan menyakini bahwa kedua mayat laki-laki tersebut adalah anggota keluarganya.

“Keluarga korban datang membawa foto kedua korban tersebut, lalu kita cocokkan dengan foto jenazah saat ditemukan di pantai. Ternyata benar,”ujarnya Senin (19/6/2017) malam.

Menurutnya, pihak keluarga korban baru mengetahui adanya penemuan mayat laki-laki tanpa identitas, melalui media sosial yang telah diuanggah foto penemuan kedua mayat itu oleh seorang netizen.

Dari keterangan keluarga korban, bahwa korban, Aris penyandang tunarungu bersama adiknya Satria adalah pemulung. Setelah satu hari pergi, kedua korban tidak kunjung.

“Kedua korban ditemukan oleh warga sudah tewas di perairan Telukbetung secara terpisah,”terangnya.

Awalnya jasad Aris ditemukan berada tidak jauh dari bibir Pantai Kuala, Telukbetung Selatan, sekitar pukul 06.00 WIB oleh seorang nelayan yang akan mencari ikan di laut tersebut. Kemudian pukul 12.00 WIB, mayat Satria ditemukan di bibir pantai Sukaraja belakang PT SBR Kampung Rawa Baru, Kelurahan Sukaraja, Bumi Waras oleh seorang warga yang sedang mencari barang bekas..

“Hasil penyelidikan sementara, kedua korban tersebut tewas diduga karena tenggelam dan ditubuh korban tidak ditemukan adanya tanda-tanda bekas kekerasan,”pungkasnya. (Koesma)