Tuesday, 12 December 2017

Kementerian Perhubungan Usut Insiden Garuda dan Sriwjaya

Senin, 19 Juni 2017 — 19:38 WIB
Pesawat Garuda Indonesia. (ist)

Pesawat Garuda Indonesia. (ist)

JAKARTA (Pos Kota) – Dirjen Perhubungan Udara Agus Santoso menyampaikan apresiasi kepada petugas ATC Bandara Soekarno Hatta dan pilot Garuda GA 425 yang sigap melakukan prosedur “go around” karena di landasan pacu masih ada pesawat Sriwijaya yang alami masalah teknis.

Dikatakan Agus tindakan “go around” atau terbang kembali di saat pesawat sudah siap-siap mendarat di runway adalah salah satu prosedur keselamatan penerbangan.

Menurut Agus Prosedur go around diatur dalam Civil Aviation Safety Regulation (CASR) 91 tentang General Operating and Flight Rules.

“Go around termasuk tindakan yang dibenarkan untuk keselamatan dan patut diapresiasi,” jelas dirjen menanggapi peristiwa go around pesawat Garuda Indonesia nomor penerbangan GA 425 rute Denpasar-Jakarta pada hari Minggu, 18 Juni 2017 lalu di Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang.

Sebelumnya AirNav Indonesia menerangkan pesawat Garuda go around pukul 15.16 UTC atau jam 22.16 WIB hari Minggu (18/6/2017).

Go around dilakukan karena pada saat yang bersamaan, masih ada pesawat Sriwijaya SJ580 rute Jakarta-Makassar di landasan pacu dan tidak jadi terbang (take off) karena alasan teknikal.

Dirjen mengakui Bandara Soekarno-Hatta adalah bandara yang sibuk. Setiap menit ada pergerakan pesawat take-off dan landing. Dengan demikian diperlukan kecepatan dan kecermatan berfikir dan kesigapan bertindak pada pilot dan ATC dalam menjalankan prosedur keselamatan.

Bagi penumpang awam, prosedur go around bisa dianggap sebagai bentuk ketidaknyamanan bagi penumpang.

Namun karena termasuk dalam prosedur keselamatan, Agus meminta agar para penumpang maklum. “Keselamatan penerbangan lebih penting karena menyangkut nyawa manusia,” papar dirjen.

Saat ini jajaran Direktorat Navigasi Ditjen Perhubungan Udara sudah diturunkan untuk menyelidiki penyebab kejadian tersebut dan mencari jalan keluar sehingga kejadian serupa tidak terulang di kemudian hari.

“Semua kejadian yang terkait keselamatan penerbangan harus terdokumentasi dengan baik. Dengan demikian dapat dipelajari untuk membuat antisipasi sehingga kejadian yang sama tidak terulang,” kata Agus. (dwi)