Thursday, 24 August 2017

Vardag Pengacara Spesialis Perceraian bagi Kaum Super-Kaya

Senin, 19 Juni 2017 — 20:46 WIB
Kantung Anda harus sangat tebal jika ingin menyewa jasa pengacara top, Ayesha Vardag.

Kantung Anda harus sangat tebal jika ingin menyewa jasa pengacara top, Ayesha Vardag.

JIKA Anda pernah mendapati suami atau istri Anda tengah berbicara dengan Ayesha Vardag, Anda harus panik.

Vardag yang glamor adalah salah satu pengacara perceraian paling banyak dicari dan paling terkenal.

Dengan julukan “diva perceraian”, perempuan berusia 49 tahun itu membantu “individu dengan nilai net yang sangat tinggi” guna mendapat kesepakatan pemisahan harta terbaik saat pernikahan mereka berakhir.

Firma hukumnya, Vardags, memiliki kantor pusat di London, dan dia telah melakukan banyak hal yang membuat London mendapat reputasi sebagai “ibu kota perceraian dunia”.

Vardag menarik banyak klien kaya dari seluruh dunia, dan sering ada perebutan antara suami dan istri untuk menyewa jasanya.

“Pasangan yang berpisah sering berlomba untuk mendapat saya untuk mewakili mereka dan bukan sisi lawan,” katanya. “Benar-benar siapa yang lebih dulu mendapat saya. Kami harus melakukan pengecekan konflik dengan sangat hati-hati.”

Saking terkenalnya reputasi Vardag untuk menang, dia bisa memasang tarif tinggi £795 per jam (atau sekitar Rp13 juta lebih) di luar pajak. Bahkan, firma hukum Vardags, yang didirikannya sejak 12 tahun lalu, kini memiliki penghasilan lebih dari £10 juta per tahun atau hampir Rp170 miliar.

Di dunia legal yang ketat persaingannya, kesuksesan Vardag tak selalu diterima dengan baik, banyak kritik terhadapnya karena dia dituduh terlalu tertarik dengan promosi diri sendiri, seperti muncul di televisi dan terlalu agresif dalam memperjuangkan kasusnya.

Vardag menjawab bahwa dia menyadari pentingnya menjaring jejaring dan sebagian orang tak suka pada perempuan yang membela dirinya sendiri.

“Saya selalu sopan dengan sisi lawan tapi cukup berani saat litigasi,” katanya.
“Saya tidak menyerah atau goyah dan sebagian orang masih belum terbiasa melihat perempuan melakukan itu.

“Saya blak-blakan dan berusaha keras…dan saya menuntut tempat saya di meja perundingan. Sebagian orang menganggap itu intimidatif, dan saya bertanya apakah ada elemen seksisme di situ.”

Lahir di Oxford dengan ibu Inggris dan ayah Pakistan, Vardag tumbuh besar tanpa mengenal ayahnya setelah dia kembali ke Pakistan saat Vardag masih kecil.

Dibesarkan oleh ibunya, Vardag mendapat nilai yang bagus di sekolah dan belajar hukum di Cambridge.

Setelah itu dia bekerja di hukum keuangan dan komersil di London, sampai 2000 ketika “perceraiannya yang tidak baik-baik” membuatnya ingin beralih ke hukum keluarga, dan khususnya menangani kasus perceraian.

Katanya, “Pengacara perceraian saya yang mempekerjakan saya. Meski saya merasa hukum keuangan itu sangat menarik, sangat sedikit orang yang terdampak pada apa yang mereka lakukan. Sebaliknya, saya merasa hukum keluarga sama menariknya, dan ada sesuatu yang mendorongnya. Anda berjuang agar orang-orang bisa tetap mempertahankan rumah mereka atau bisnis mereka atau tetap bisa berhubungan dengan anak-anak mereka; hal-hal mendasar.”

Setelah bekerja untuk perusahaan lain dan memberi kuliah untuk hukum keluarga di Queen Mary University of London, pada 2005, dia memutuskan untuk membuka praktik hukumnya sendiri dari kamar kosongnya.

Meski awalnya tak punya klien dan untuk membiayai tiga anak, Vardag memutuskan untuk “berjejaring seperti orang gila” untuk membuat namanya dikenal. Maka, saat dia menghadiri acara sosial di London seperti acara malam amal atau pembukaan pameran, dia akan mengenalkan dirinya ke orang-orang.

Klien pertamanya adalah seorang ibu di sekolah anaknya, yang ditemuinya saat mereka berbicara pada malam pertemuan guru dan orangtua, dan Vardag mendapat bagian yang bagus untuk kliennya tersebut.
Klien-klien lain pun menyusul seiring berkembangnya reputasi Vardag.

Katanya, “Kedengarannya konyol, tapi saat saya mengawali firma ini, ada dua hal yang menjadi motivasi saya; lagu ‘What You Waiting For’ dari Gwen Stefani dan film Field of Dreams Kevin Costner dengan mantra ‘jika Anda membangunnya, mereka akan datang’. Ini adalah soal keyakinan.”

Kini Vardags punya 55 pengacara di lima kantor – London, Cambridge, Newcastle, Winchester dan Manchester.

Vardag sering tampil mengomentari perceraian dan hukum keluarga lain di televisi.

Meski semua kasus yang ditangani perusahaannya disidangkan di pengadilan Inggris (atau Wales), Vardag tinggal di Dubai selama dua tahun terakhir. Ini lagi-lagi untuk alasan berjejaring, agar dia bisa bertemu dengan klien dari Timur Tengah.

Meski dia tidak akan membahas kasus individual, Anda bisa mencari namanya di Google untuk membaca peliputan media akan klien-kliennya yang paling terkenal.

Dalam salah satu kasusny awal tahun ini, Vardag membantu ratu kecantikan Malaysia, Pauline Chai mendapatkan £64 juta atau Rp1 triliun lebih.

Sementara itu, pada 2009, dia sukses mengajukan perjanjian pra-nikah seorang kliennya, seorang pewaris kaya Jerman, sebagai bukti yang harus diterima oleh pengadilan. Ini adalah untuk pertama kalinya pengadilan Inggris mengakui perjanjian pra-nikah.

Sesama pengacara perceraian Inggris, Vanessa Lloyd Platt, mengatakan bahwa Vardag “melejit dengan cepat dan saya sangat menyukainya. Saya tahu orang-orang menganggap dia agresif, tapi ada banyak kecemburuan pada profesi ini bagi siapa saja – terutama perempuan – yang sukses.

“Saya kagum akan apa yang dia capai dan sukses untuknya.”
Vardag mengatakan bahwa keterlibatannya dalam kasus-kasus di firma hukumnya beragam, dari mulai memberi nasihat sampai langsung turun memimpin.

Katanya, klien-kliennya membayar agar dia memimpin karena dia bisa “mengubah hasil kasus tersebut secara mendasar”, dan dia bisa “membawa perubahan yang nilainya bisa puluhan juta”.

“Anda bisa menggunakan kata ‘diva’ sebagai hinaan, tapi saya melihatnya sebagai pujian. Ini soal blak-blakan dan gigih, berwarna dan flamboyan.” (BBC)