Saturday, 20 October 2018

Jadi Tersangka, Gubernur Bengkulu dan Istri Ditahan KPK

Rabu, 21 Juni 2017 — 15:12 WIB
Gubernur Bengkulu Ridwan Mukti bersama Istri Lily Mardani tiba di Gedung Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) , Jakarta (rihadin)

Gubernur Bengkulu Ridwan Mukti bersama Istri Lily Mardani tiba di Gedung Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) , Jakarta (rihadin)

JAKARTA (Pos Kota) – Gubernur Bengkulu Ridwan Mukti dan istrinya, Lily Martiani Maddari, ditahan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Rabu (21/6/2017). Keduanya ditetapkan menjadi tersangka dalam kasus dugaan suap terkait dua proyek jalan di Kabupaten Rejang Lebong, Bengkulu.

Juru Bicara KPK, Febri Diansyah mengatakan, Ridwan ditahan di Rumah Tahanan (Rutan) Guntur, Setiabudi, Jakarta Selatan. Sementara Lily ditahan di Rutan KPK Kavling C1, Jalan HR Rasuna Said, Setiabudi, Jakarta Selatan.

“Dilakukan penahanan 20 hari pertama untuk RM (Ridwan Mukti) di Rutan Cabang KPK Guntur, dan LLM (Lily Martiani Maddari) di rutan Cabang KPK C1,” kata Febri, dalam jumpa pers di Gedung KPK, Jalan Kuningan Persada, Setiabudi, Jakarta Selatan, Rabu (21/6/2017) siang.

Penahanan, kata Febri, dilakukan sekitar pukul 06.30 sampai 07.00 karena pertimbangkan batas waktu penyidikan dan status hukum Ridwan dan Lily sudah menjadi tersangka.

Wakil Ketua KPK, Alexander Marwata menegaskan, penetapan tersangka berdasarkan hasil pemeriksaan intensif selama 1×24 jam dan gelar perkara. Pasangan suami istri itu pun disangkakan menerima uang suap terkait dengan fee dua proyek yang dimenangkan PT Statika Mitra Sarana (SMS) di Kabupaten Rejang Lebong, Bengkulu.

“Diduga pemberian uang terkait fee proyek yang dimenangkan PT SMS di Provinsi Bengkulu dari komitmen 10 persen per proyek yang harus diberikan kepada Gubernur Bengkulu melalui istrinya,” kata Alexander.

Menurutnya, dari dua proyek yang dimenangkan PT SMS itu, dijanjikan Rp4,7 miliar (setelah potong pajak) mengalir ke gubernur. “Dua proyek itu meliputi pembangunan atau peningkatan jalan TES-Muara Aman, Kabupaten Rejang Lebong, dengan nilai proyek Rp37 miliar, dan peningkatakan jalan Curug Air Dingin di Kabupaten Rejang Lebong dengan nilai proyek Rp16 miliar,” paparnya.

lili mardani

Selain terhadap Ridwan dan Lily, terkait kasus ini KPK juga menetapkan status tersangka kepada pengusaha sekaligus Bendahara Partai Golkar Bengkulu, Rico Dian Sari, dan Direktur PT SMS, Jhoni Wijaya, sebagai tersangka. Jhoni Wijaya adalah pihak yang diduga sebagai pemberi. Jhoni dan Rico pun sudah ditahan, masing-masing di Rutan Cipinang, Jakarta Timur, dan di Rutan Mapolres Jakarta Pusat.

“Sebagai pihak yang diduga pemberi, JHW (Jhoni Wijaya) disangkakan melanggar Pasal 5 ayat (1) huruf a atau b atau Pasal 13 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 jo. Pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHP,” kata Alexander.

“Kemudian sebagai pihak yang diduga penerima, RM, LMM, dan RDS (Rico Dian Sari) disangkakan melanggar Pasal 12 huruf a atau b atau Pasal 11 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 jo. Pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHP,” imbuhnya.

Sebelumnya, keempat orang itu terjaring dalam operasi tangkap tangan (OTT) yang dilakukan Satgas KPK di Bengkulu. Selain mereka sebenarnya ada satu orang lainnya yang ikut diamankan dan diterbangkan, dibawa ke kantor KPK di Jakarta untuk diperiksa. Namun satu orang itu akhirnya dilepaskan karena dianggap tidak berkaitan langsung dalam kasus tersebut.

Dalam OTT di Bengkulu, KPK juga menyita sejumlah barang bukti berupa uang sebanyak Rp1 miliar dalam pecahan Rp100 ribu dari rumah gubernur, dan uang Rp260 juta dari tas ransel Jhoni di sebuah hotel.
(julian/sir)