Thursday, 20 September 2018

Perajin Kulit Ketupat Lebaran Panen Rejeki

Kamis, 22 Juni 2017 — 17:40 WIB
Perajin kulit ketupat di kawasan Pasar Pademangan, Jakut. (Joko)

Perajin kulit ketupat di kawasan Pasar Pademangan, Jakut. (Joko)

JAKARTA (Pos Kota) – Dalam suasana jelangLebaran di DKI Jakarta, omset penjualan kulit ketupat bisa melonjak sampai 10 kali lipat. Tak pelak lagi, para perajin anyaman daun kelapa yang mangkal di kawasan pasar tradisional ini tengah menikmati ‘panen raya’.

Omset penjualan kulit ketupat meningkat drastis dikarenakan banyak warga yang  ingin membuat masakan khas Lebaran yakni Opor Ayam yang selalu ditemani ketupat sebagai pengganti lontong. Ketupat sudah menjadi tradisi saat Lebaran. Tak ada ketupat tak afdol.

“Rasanya kagak afdol kalau Lebaran, kagak masak Opor Ayam,” ujar Ny. Sarifah saat berbelanja di Pasar Pademangan Barat, Jakut, Kamis (22/6). Dia berbelanja beberapa renteng kulit ketupat.

Setiap liburan Lebaran, perajin kulit ketupat makin marak, baik yang katagori musiman maupun permanen. Mereka mangkal di sejumlah pasar tradisional seperti Pasar Palmerah, Tanah Abang, Kemayoran, Tomang Barat, Cengkareng, Pademangan Barat, dan seabrek pasar lainnya.

Tiap lapak melibatkan sejumlah perajin yang bekerja menganyam daun kelapa sambil melayani penjualan di lokasi. “Alhamdulillah, tiap hari raya Idul Fitri maupun Idul Adha, penjualan kulit kelapa selalu laku keras,” ujar Fahmi, pedagang di kawasan Palmerah, Jakbar.

Pada hari biasa, dia hanya melayani kebutuhan  pedagang lontong sayur yang jumlahnya cuma sekitar 200 bungkus. Tapi sejak beberapa hari ini, penjualannya melonjak tinggi sampai 2.000-an bungkus. Kulit ketupat dijual tiap renteng terdiri dari 10 bungkus seharga Rp 15 ribu maupun Rp 20 ribu, tergantung pada ukuran.

Panen raya ini juga dirasakan para perajin musiman di kawasan Pasar Pademangan Barat. “Dari pagi sampai menjelang sore, sudah terjual sekitar 1.600 bungkus. Untungnya lumayan sih, tapi tangan dan bahu jadi pegal-pegal, karena dari pagi sampai malam terus menganyam tanpa henti, kecuali saat makan atau salat,” papar Herman yang mengaku keuntungannya berkisar 30 persen dari harga penjualan. (Joko/win)