Monday, 19 November 2018

Istri Dilarang Punya Anak Karena Takut jadi Longgar

Jumat, 23 Juni 2017 — 6:59 WIB
longgar

LELAKI paling kentir se Surabaya mungkin hanya Suratman, 37. Menikah sampai tiga kali, tapi bini itu dilarang punya anak, karena takut jadi longgar itu barang. Bini terakhir, Lastri, 30, juga pilih bercerai, karena Suratman hanya mau enaknya, tapi ogah anaknya. “Saya mau cari suami yang normal,” kata Lastri.

Setiap orang berumahtangga selalu mendambakan hadirnya keturunan. Bahkan yang lama tak punya anak pun dicarikan seribu cara bagaimana istri bisa hamil dan melahirkan. Sebab keluarga tanpa anak, sama saja cuma keringetan doang. Lalu siapa kelak menjadi pewaris sejarah? Lalu siapa pula yang akan menikmati semua harta warisannya?

Tapi Suratman warga Kebonsari, Surabaya, sungguh lain dari yang lain, bila tak mau disebut kentir atau tidak normal. Mungkin dia satu-satunya lelaki di Surabaya yang tak mau punya anak. Alasannya sangat mengada-ada. Jika ada anak, nanti kasih sayang istri anak beralih ke anak, dan suami tak diperhatikan lagi. Jika pelawak Asmuni masih hidup pasti akan bilang, “Ini suami cap apa?”

Paling krusial bagi Suratman, ketika istri telah melahirkan, akan menjadi longgar dia punya barang. Dia sebagai suami takkan lagi bisa menikmati hubungan suami istri yang mengasyikkamn. Agaknya Suratman ini punya anggapan, istri tak lebih hanya mitra melepas syahwat. Jika dia sudah tak bisa lagi memuaskan dalam urusan satu itu, ya diceraikan saja. Gitu saja kok repot.

Tak mengherankan, dalam usia belum kepala 4 dia sudah 3 kali menikah, dan kedua istrinya dilarang hamil dan melahirkan. Karena itulah istri pertama juga kaget, begitu menjadi suami istri dia harus ikut KB. Jika tidak istri yang minum pil, Suratman selalu menggunakan kondomium (kalau kondom, itu rumah susun). Konsensus itu tak pernah dilanggar.

Istri pertama pun akhirnya minta cerai. Istri kedua juga terkena persyaratan yang sama. Untuk enak-enakan, yes. Tapi untuk anak, no! Lagi-lagi bini kedua itu dipaksa pakai spiril, tubektomi. Pokoknya jangan sampai kebobolan. Sebab istri hamil dan melahirkan, hanya bikin repot. “Lagi hamil, saya harus memanjakan bini yang lagi ngidam. Memangnya urusan suami hanya itu?” begitu kata Suratman, seperti paling benar se kota Surabaya.

Istri kedua pun memilih direshufle. Suratman kemudian menikahi Lasti, sebagai isrtri yang ketiga. Sama sekali perempuan itu tak tahu kelakuan Suratman yang sebenarnya. Tahunya lelaki ini tampan, santu, tutur katanya rapi, dan seiman pula. Maka ketika kemudian Suratman mengajak menikah, Lastri sama sekali tak menolak. Suratman memang duda keren, karena hidupnya mapan.

Tapi seperti istri pertama dan kedua, Lastri juga tidak boleh punya anak. Edan nggak, malam pertama sudah disodorkan tiga paket: pakai spiral, pil atau kondomium? Akhirnya, Lastri hanya sanggup 6 bulan jadi bini Suratman. Sebab dia hanya sekedar menjadi obyek seksualitas belaka, tanpa diperbolehkan punya anak. Maka seperti bini-bini Suratman sebelumnya, Lastri juga menggugat cerai.

Apa reaksi Suratman? Katanya, jika memang ingin punya anak, pasti saya ijinkan. Tapi jika nanti badan jadi gembrot dan “aset”-nya menjadi longgar, jangam menyesal jika ditinggal. “Pasti saya ceraikan dan ganti istri lagi.” Kata Suratman.

O, lha cah gemblung! (JPNN/Gunarso TS)