Tuesday, 13 November 2018

Obama Tertawa Soal Omongan Masa Kecil Ingin Jadi Presiden

Sabtu, 1 Juli 2017 — 18:27 WIB
Obama dan Presiden Jokowi saat di Istana Bogor.

Obama dan Presiden Jokowi saat di Istana Bogor.

Mantan Presiden Amerika Serikat Barack Hussein Obama memberikan pidato dalam Kongres Diaspora Indonesia keempat. Obama berbicara banyak hal dalam pidatonya. Di antaranya, ia bercerita tentang Jakarta yang berubah,  masa kecilnya, dan menyinggung soal korupsi.

Obama membandingkan kehidupannya dulu di daerah Menteng Dalam dengan kondisi Jakarta saat ini. “Di Jakarta, kita bisa melihat perkembangannya,” kata Obama tentang Jakarta dalam bahasa Inggris, di Kongres Diaspora Indonesia Ke-4 di Kasablanka Hall, Jakarta, pada Sabtu (1/7/2017).

Menurut dia, dulu, saat tinggal di Menteng Dalam, Obama masih dapat melihat kendaraan semisal bemo. Sekarang, tidak ada lagi. “Saya dulu tinggal di Menteng Dalam. Becak, bemo,” ucap Obama.

Obama juga mengenang bagaimana harus mengepel lantai rumahnya saat hujan karena air merembes ke atap. Namun, Obama mengatakan Jakarta sudah tak seperti dulu. “Sekarang Jakarta banyak perubahan,” ujar Obama.

Obama tinggal di Jakarta pada 1967-1971. Ketika itu, di Jakarta memang masih banyak rawa dan persawahan. Kenangan akan suasana Jakarta itu pernah ditulis Obama dalam buku ‘The Audacity of Hope’ pada 2007. Obama menggambarkan bagaimana jumlah becak lebih banyak ketimbang mobil.

Presiden Amerika Serikat ke-44 itu juga bercerita bahwa ada orang yang menyatakan, sewaktu kecilnya dia sudah menyatakan akan menjadi Presiden. Obama tertawa ketika hal itu sempat muncul di media massa.

“Ketika saya terpilih, mereka (media) wawancara guru kelas 2 SD saya. Lalu ia mengatakan: Ya, Obama bilang dia akan jadi Presiden,” katanya. “Itu bagus, tapi saya pikir tidak ada yang benar-benar ingat apa yang saya katakan 40 tahun lalu.”

Mengungkapkan hal ini, Obama  langsung tersenyum dan disambut oleh gelak tawa diaspora yang hadir. Obama sendiri sebenarnya tidak begitu khawatir terkait apa yang diberitakan tentang masa lalunya.

Ia mengaku lebih menaruh perhatian pada apa yang akan diberitakannya di tahun-tahun mendatang, oleh sebab itu ia berusaha untuk terus memberi pengaruh bagi orang lain.

“Saya tidak khawatir tentang media sekarang, tapi apa yang saya khawatirkan adalah apa yang akan mereka tulis 20 tahun mendatang. Yang paling penting adalah tetap steady,” ujarnya. (*/win)