Monday, 23 October 2017

Kakiceran Tradisi Syawalan yang Masih Bertahan

Selasa, 4 Juli 2017 — 20:44 WIB
Penari Kakiceran biasanya siswa SD hingga SMP

Penari Kakiceran biasanya siswa SD hingga SMP

LAMPUNG (Pos Kota) – Mempertahankan tradisi yang unik untuk memeriahkan Silaturahmi Idul Fitri di Bulan Syawal saat ini masih bertahan di Kecamatan Lemong dan Pesisir Utara Kabupaten Pesisir Barat Provinsi Lampung. Tradisi tersebut bernama Kakiceran.

Di wilayah ini masyarakatnya didominasi tiga marga yakni Marga Pugung Malaya, Marga Pugung Penengahan dan Marga Pugung Tampak atau Lebih dikenal dengan sebutan daerah Pugung Krui.

Kakiceran adalah Ajang Silaturahmi Idul Fitri dengan pentas tari yang diselenggarakan oleh setiap pekon (desa) dalam 3 Marga Adat tersebut. Pekon yang jadi Tuan rumah bergantian mulai 1 Syawal sampai semua pekon selesai. Acara dimulai dari pukul 21.00 atau pukul 22.00 sampai selesai. Kerap acara ini berakhir pukul hingga 06.00.

Adapun lokasi Kakiceran di tempat terbuka di tengah Pekon dilengkapi meja, kursi, penerangan dan sound system seadanya.

Menurut Kepala Dinas Pariwisata Pesisir Barat Audi Marpi, setiap pekon dalam 3 Marga menjadi tuan rumah, contoh Marga Pugung Malaya yang terdiri atas 7 pekon tuha (Kampung Tua) yakni Malaya, Cahaya Negeri, Lemong, Pardahaga, Tanjung Way Batang, Tanjung Sakti dan Tanjung Jati mengadakan Kakiceran dengan diundi 1 sampai 7 Syawal.

Sedangkan 2 pekon pemekaran yakni Rata Agung dan Sukamulya tidak mengadakan Kakiceran tapi Tradisi baru yaitu Pesta Rakyat alias Organ Tunggalan saja.

Marga Pugung Penengahan yang meliputi 4 Pekon tuha yakni Penengahan, Bandar, Bambang dan Pagar Dalam juga mengadakan Kakiceran. Sedang Sukabanjar yang secara adat masuk Marga Pugung Penengahan, tapi saat ini secara administratif sudah masuk Kecamatan Lumbok Seminung Kabupaten Lampung Barat tidak mengadakan Kakiceran.

Penarinya adalah anak-anak perempuan biasanya usia kelas 2 SD sampai kelas 3 SMP dulu sampai usia SMA.

Mewakili pekon nya masing-masing, Mereka ini disebut ANAK TARI. Sedang yang mengajar menari alias Koreografer nya Muli (gadis) dan Meranai (bujang) di desa masing-masing, Mereka ini disebut GURU TARI. Jika dalam 1 malam ada 3 Lokasi Kakiceran maka Anak Tari dan Guru Tari dibagi menjadi 3 Kelompok dengan tujuan 3 lokasi tersebut. Kebanggaan bagi mereka semua bisa mewakili dan mengharumkan nama pekon nya masing-masing.

Hadiah menarik disediakan oleh tuan Rrmah dari mulai buku, alat tulis, piala, uang saku sampai dengan kambing bahkan sapi.

Biayanya dari swadaya masyrakat pekon masing-masing. Banyak perantau yang pulang kampung karena kangen dengan kedayokan (Acara) Kakiceran ini. Bahkan banyak diantara mereka berpatokan kembali kedaerah rantaunya setelah kakiceran selesai.

Minggu lalu Bupati Pesisir Barat Agus Istiqlal dan Istri serta jajaran, Ketua Komisi C DPRD yang juga berasal dari Dapil I Pesisir Barat Ripzon Effendi, Anggota DPR RI Henry Yosodiningrat yang sedang pulang kampung Asal Ayah nya bersama Ketua DPC PDI Perjuangan Pesisir Barat Oking Ganda Miharja menonton Kakiceran bersama di kampung halaman Pekon Pugung Penengahan Kecamatan Lemong Kabupaten Pesisir Barat Provinsi Lampung. (Koesma)