Saturday, 22 September 2018

Janda Mau Menikah, Bonjrot Dihajar Bekas Suami

Jumat, 7 Juli 2017 — 6:33 WIB
sudi

SUDAH bukan istri masih diudak-udak juga, di Purworejo (Jateng), mungkin hanya Ngadiono, 51. Sudah 5 tahun dia menunggu untuk kembali “srabi kecemplung kalen” (rujuk), eh….malah Mindu, 49, mau nikah dengan lelaki lain. Kontan Ngadiono ngamuk, bekas istri itu dihajar dan mobil Avanza di garasi dibakarnya.

Tak semua percerain itu kesepatan kedua belah pihak. Kebanyakan hanya pihak sebelah yang bernafsu, sedangkan sebelahnya lagi tidak. Ada banyak alasan dan pertimbangan di dalamnya. Jika tidak sama-sama ridla, bisa seperti menyimpan bom waktu, sekali waktu bisa meledak. Kalau meledaknya balon sih, jika punya lima dorrr….. masih punya empat dan bisa kupegang erat-erat……

Ngadiono warga Purworejo, termasuk yang tidak ridla ketika istrinya menggugat cerai sekitar 5 tahun lalu. Tapi karena Pengadilan Agama Purworejo mengabulkan, mendadak saja Ngadiono harus menjadi duda. Padahal duda itu tiap malam selalu tidur klisikan (tidak tenang), karena di kamar suhu udara dinginnya minta ampun padahal bukan musim kemarau dan juga tak pasang AC.

Karena yang berminat cerai pihak istri, doa Ngadiono jadi jelek. “Ya Allah, susahkanlah jodoh bekas istriku, sehingga aku punya peluang rujuk kembali.” Begitu selalu doa Ngadiono setiap malam. Dan karena selalu berharap demikian, Ngadiono jadi tak selera menikah lagi dengan perempuan lain. Dia memang kadung ngotot alkhotot, pada saatnya nanti harus bisa srabi kecemplung kalen bersama Mindul.

Mungkin karena Ngadiono makhluk yang teraniaya, doanya makbul juga. Artinya, sepanjang waktu 5 tahun itu Mindul belum menemukan suami pengganti. Banyak sih kontestannya, tapi Mindul mematok syarat yang berat, yakni: ganteng, pintar bicara, santun dan seiman.

Rupanya di Purworejo susah mencari lelaki berkriteria demikian. Ada yang ganteng, pintar bicara, santun, tapi beda agama. Ada pula yang ganteng, seiman, pintar bicara, tapi bicara kasar. Ada pula yang seiman, santun, tapi tidak pintar bicara. Disuruh kasih sambutan dalam satu acara, dia ngomong, “Para hadirin yang berbahaya.” Padahal maksud dalam hatinya: berbahagia.

Begitulah, karena Mindul tetap ngglondhang (kosong), Ngadiono mulai mendekati lagi bekas istrinya. Ketimbang menikah lagi dengan pria lain, mending kembali ke pangkuannya saja. Tapi Mindul tetap menolak, dengan alasan masih ingin hidup menyendiri. Buat apa tergantung pada lelaki, wong sehari-hari juga jadi PNS di Pemkab Purworejo. Bagi Mindul sekarang, suami itu sekedar pelengkap penderita.

Ngadiono benar-benar pusing. Sudah 5 tahun dia menjalani “gencatan senjata” tanpa sepengetahuan PBB. Padahal sebagai lelaki normal, dia selaku ingin melepaskan tembakan peluru dua belas komah tujuh, dari Washington (AS) langsung Pyongyang (Korut). Apa nyampai? Kenapa tidak, kan bisa dibantu Kim Jong Un, bro!

Di kala Ngadiono sedang galau, eh….ada kabar bahwa Mindul sudah menemukan jodohnya, bahkan sebentar lagi mau naik ring. Malam-malam dia datang ke rumah bekas istrinya itu di Kecamatan Bayan. Maksudnya, perkawinan itu dibatalkan dan menikah saja ama gue. Tentu saja Mindul menolak, memangnya apaan, pernikahan mau dibatalkan, kayak SIUP koran jaman Orde Baru saja.

Ngadiono yang putus asa jadi nekat. Langsung saja bekas istrinya itu ditusuk pisau bagian muka dan lehernya. Mindul teriak dan warga berhasil menolongnya, sedangkan Ngadiono setelah membakar mobil istrinya, sebelum kabur ditangkap dan digebuki warga. Untung polisi mengamankannya.

Di rumah kesepian, di sel polisi pasti tambah kesepian lagi, bro! (KR/Gunarso TS)