Friday, 22 September 2017

Duda Pulang Arus Balik Ngumpet di Rumah Janda

Sabtu, 8 Juli 2017 — 7:36 WIB
duda

PULANG arus balik, biasanya habis-habisan. Tapi Widyo, 28, dari Tulungagung (Jatim) ini lain. Meski ludes di kantong, tapi termanjakan di “entong”. Sebab ketika nginep berhari-jari di rumah janda Sriyatun, 25, dia dapat fasilitas kelonan 24 jam nonstop. Tentu saja warga menjadi risih dan pasangan mesum itu dipaksa nikah.

Lebaran 1438 H ini Kementrian Perhubungan dapat acungan jempol publik. Sebab arus mudik dan arus balik berjalan lancar, tak ada pengendara mobil yang Lebaran di jalan. Menhub Budikarya Sumadi memang adi dalam karya, sehingga para pemudik pun puas. Karenanya Mentri Negara Urusan Mudik tidak perlu diwacanakan dan dibentuk.

Tapi pemudik sekaligus arus balik paling mujur di Jatim, mungkin hanyalah Widyo, warga Kendal, Kabupaten Nganjuk. Ketika orang tak sampai nginep di jalan, dia malah nginep di rumah janda Sriyatun di Sumbergempol, Tulungagung. Selama tiga hari di sana, woo…… dia dapat pelayanan ranjang gratis. Maka meski isi kantong sudah ludes, “si entong” miliknya jusrtru selalu terjamin, sampai gemak lonteng-lonteng, krasa penak ndengkeng-ndengkeng.

Pada Lebaran 1438 H kemarin, dari kampungnya di Kecamatan Kendal, dia malah “arus balik” menuju Kecamatan Sumbergempol, Tulungagung. Di situ ada rumah kekasih barunya, Sriyatun, yang berstatus sama seperti dirinya, tuna pasangan. Sriyatun tak pernah keberatan kekasihnya itu sampai nginep segala. Sebab dia juga menikmati kunjungan itu, meski warga dadanya mengkap-mengkap, karena takut terjadi hil-hil yang mustahal.

Lha rak tenan, ternyata Widyo hepi bener di rumah Sriyatun. Arus balik lainya kantong ludes, dia punya “entong” malah entuk-entukan. Meski tamu Widyo dipersilakan tidur satu ranjang dengan Sriyatun, termasuk dengan segala aktivitasnya. Jadi duda ini benar-benar berperilaku seperti orang minum obat, tiga kali sehari sesendok makan. Kocok dulu sebelum pakai. Bila nikmat berlanjut, hubungi dokter terdekat.

Ketika Widyo menginap hanya semalam, warga masih bisa memaklumi. Tapi ketika sudah tiga hari belum juga pergi, penduduk pun komentar bareng: ndeso! Nggak takut dilaporkan aktivis media sosial? Ya enggaklah, sebab pengguna istilah “ndeso” dan “ndesit” itu sangat lazim dan masif di wilayah Jateng dan DIY. Melaporkan orang ke polisi gara-gara ucapan itu, benar-benar……..ndeso!

Warga pun lalu konsultasi dengan Pak Kades, minta petunjuk untuk menggerebek pasangan Widyo-Sriyatun itu. Awalnya melarang, tapi karena warga ngotot alkhotot untuk menggerebek, akhirnya diizinkan. Tapi pesan Pak Kades, jangan sampai terjadi anarkis, apa lagi bermain SARA. Kalau sekedar SARA-pan, silakan saja.

Bismillah, penggerebekan dalam rangka amar makruf nahi munkar itu berlangsung. Tapi ternyata Sriyatun mengklaim bahwa tidak ada duda Widyo setugel pun. Warga tentu saja tak percaya. Ketika digeledah, ditemukan Widyo ngumpet di kolong ranjang dengan kondisi pakai kolor doang. Agaknya mereka kala itu baru “setengah main”, langsung diisi iklan.

Widyo-Sriyatun lalu disidangkan di balaidesa. Karena mereka memang benar janda dan duda, sehingga tidak ada pihak yang dirugikan, Pak Kades hanya memutuskan: keduanya harus menikah segera. Widyo diberi dispensasi boleh pulang ke desa asalnya, untuk mengurus surat model NA untuk numpang nikah di desa Sriyatun.

Setelah itu “numpangi” tuan rumah, silakan saja bro! (JPNN/Gunarso TS)