Thursday, 27 July 2017

Memaknai Nasihat Mbah Suparni

Sabtu, 8 Juli 2017 — 5:29 WIB

RESEP hidup itu harus menerima apa adanya. Tidak perlu wah dan berlebihan.
Jangan pekok. Itulah resep mbah Suparni yang masih tetap sehat, bugar dan ceria. Bahkan hingga di usianya yang sudah 117 tahun, dia masih mencari nafkah sendiri. Tidak mau merepotkan orang lain, malah banyak nembantu orang lain.

Mbah Suparni, belakangan ini banyak diperbincangkan publik setelah video amatir tentang nasihat hidup yang diberikanya menjadi viral.

Resep hidupnya cukup sederhana. Pikiran yang jernih. Sebagai manusia harus menerima apa adanya, dan terus bersyukur.

Nasihat ini sangat sederhana, tetapi dari kesederhanaan inilah kemudian Mbah Suparni, warga Padukuhan Sadang, Kelurahan Tanjungharjo, Kecamatan Nanggulan, Kabupaten Kulonprogo, ini diberi umur yang barokah, sehat secara fisik dan mental.
Ada beberapa nasihat yang bisa kita aktualkan dalam kehidupan era sekarang ini. Pertama, menjaga pikiran untuk selalu berpikir positif ( positive thinking), bukan sebaliknya negative thinking.

Kita bisa maknai untuk tidak selalu menilai kejelekan orang lain, apalagi mencari – cari kejelakan orang. Sebab, orangn lain yang dinilai jelek, boleh jadi lebih baik dari kita. Bisa jadi diri kita lebih jelek dari kejelekan orang dari yang diperguncingkan.

Kedua, hidup tak perlu merasa wah dan berlebihan. Hidup juga tak perlu aneh-aneh mencari harta yang berlebihan.

Ini bisa kita maknai sebagai manusia tidak boleh serakah, apalagi sampai mengambil hak orang lain.

Korupsi adalah satu perilaku serakah, suatu sikap yang tidak mensyukuri prmberian Tuhan.

Jabatan empuk sudah dikasih, fasilitas sudah tersedia, kelebihan rezeki sudah diberi, tetap saja merasa kurang sehingga berbuat korup.

Ketiga, jangan pekok. Dalam bahasa Jawa pekok bisa diartikan bodoh, ngeyel ( susah diberi tahu). Sudah tahu salah, tapi dilakukan.

Contoh konkret sudah tahu korupsi itu salah masih saja dilakukan. Sudah sering pejabat tertangkap tangan oleh KPK ( Komisi Pemberantasan Korupsi) ketika meneima suap masih saja ditiru.

Sudah banyak yang dipenjara karena mengambil duit negara ( rakyat) masih tidak kapok juga.

Ini, boleh jadi, karena dirinya merasa gagah, kuat, paling bisa mengatur dan merekayasa. Merasa paling benar, meski apa yang dilakukan salah, tetap saja mencari pembenaran diri. Mestinya yang dikedepankan adalah mencari kebenaran, bukan merekayasa pembenaran diri.

Kalau pembenaran diri yang terus dicari karena dukungan jabatan dan kekuasaan, lantas di mana letak keadilan. (*).