Friday, 22 September 2017

Begini Tradisi Nadran Nelayan Indramayu

Minggu, 9 Juli 2017 — 19:25 WIB
Ratusan nelayan Desa Bugel dan Sukahaji gelar pesta laut. (taryani)

Ratusan nelayan Desa Bugel dan Sukahaji gelar pesta laut. (taryani)

INDRAMAYU (Pos Kota) – Ratusan nelayan Desa Sukahaji dan Bugel, Kecamatan Patrol, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, Minggu (9/7/2017) melaksanakan pesta laut atau biasa disebut Nadran. Upacara tradisi masyarakat pesisir di Pantura Kabupaten Indramayu itu ditandai dengan kegiatan melarung atau mempersembahkan sesaji ke laut.

Kegiatan melarung sesaji ke laut menarik perhatian masyarakat, khususnya para nelayan. Berbagai jenis makanan termasuk benda-benda pelengkap sesaji sebelum dilarung atau dipersembahkan ke laut terlebih dahulu dilakukan upacara atau ritual melekan, semalam suntuk.

Paginya, sesaji yang dimasukkan ke dalam miniatur perahu nelayan itu dinaikkan ke atas kapal nelayan menuju ke laut. Hal itu diiringi sejumlah kapal atau perahu nelayan yang sudah dihiasai aneka makanan dan minuman.

Setelah jarak atau titik melarung di laut itu dicapai, seorang tetua adat atau nelayan senior mulai mengangkat miniatur kapal nelayan berisi sesaji itu. Selanjutnya diceburkan ke laut. Begitu miniatur kapal nelayan yang terbuat dari kertas itu diceburkan ke laut langsung diburu anak-anak nelayan dengan cara berenang.

Usai melaksanakan ritual persembahan sesaji ke laut itu barulah tetabuhan atau irama musim tradisionil seperti pagelaran wayang kulit semalam suntuk, sandiwara dan sebagainya dimulai. Panitia Nadran menyiapkan beberapa jenis kesenian yang diminati masyarakat dengan biaya swadaya atau patungan yang dikumpulkan dari hasil penjualan ikan para nelayan.

Tasdi, nelayan 54 tahun, mengatakan Nadran di daerah pesisir di Indramayu merupakan tradisi warisan para leluhur yang dilaksanakan setiap tahun apabila modalnya mendukupi. Tetapi nelayan Desa Nugel dan Sukahaji hanya melaksanakan Nadran itu 4 tahun sekali.

“Bagusnya setiap tahun kita melaksanakan Nadran. Tapi berhubung biayanya tidak mencukupi Nadran dilaksanakan setiap 4 tahun sekali,” katanya.

Upacara Nadran katanya merupakan wujud syukur atas rezeki yang diberikan kepada para nelayan. “Kami masyarakat nelayan selama ini bekerja mencari hasil tangkapan di laut dan sudah diberikan rezeki maupun keselamatan, karena itu tidak ada salahnya setiap 4 tahun sekali kita adakan syukuran berupa Nadran,” ujarnya.

Penyelenggaraan pesta laut yang dilakukan dua desa itu memunculkan kegiatan ekonomi di masyarakat, khususnya dengan hadirnya ratusan pedagang dan pengusaha hiburan seperti kemidi putar, becak angkasa dan sebagainya. “Suasana di kampong nelayan itu menjadi ramai, siang maupun malam banyak dikunjungi masyarakat,” katanya. (taryani/yp)