Sunday, 19 November 2017

Sering Chating dengan PIL Ternyata Ngajak Begituan

Minggu, 9 Juli 2017 — 5:31 WIB
chat

LAYAK Praptono, 30, naik pitam. Di HP istrinya dia memergoki chatting yang isinya Santi, 26, mengajak begituan dengan PIL-nya. Maka begitu istrinya ketemu langsung dihajar. Di sidang Pengadilan Praptono pilih dihukum penjara, ketimbang dinasihati hakim agar damai dan ujung-ujungnya batal cerai.

Jika menikah baru 6 bulan, lalu sang istri tega berkhianat dengan suami untuk mencari PIL, itu bisa disebut: ndeso! Maaf, jangan ada yang tersinggung dengan istilah tersebut, ini sekedar meniru celoteh Tukul Arwana dalam program TV-nya. Dia selama ini sering ngomong “ndeso” tak ada yang marah. Sekarang, gara-gara yang ngomong istilah itu putra presiden, ada yang jadi sensitif.

Tapi jika sensitifnya Praptono warga Tarakan, Kaltim, sangat bisa dimaklumi. Soalnya, suami cap apapun pasti tidak rela istrinya berbagai cintanya pada lelaki lain. Cinta istri itu mutlak hanya monopoli seorang suami. Beda dengan Orde Baru dulu, yang dimonopoli bukan cinta, melainkan cengkeh. Mumpung ada keluarganya jadi penguasa.

Yang dialami Praptono memang sungguh memelas. Dia menikah baru 6 bulan lalu, tapi istrinya jarang melayani yang menjadi hak suami. Setiap dia minta jatah, Santi selalu beralasan. Jika tidak sedang “lampu merah”, juga badan capek. Ketika suami terus mencolek-colek di ranjang, jawabnya, “Memangnya saya kondektur, main colek!”

Praptono sungguh heran, kenapa gerangan istrinya kok begitu. Padahal usia perkawinan itu baru 6 bulan dan semuanya berdasarkan pilihan sendiri. Pengantin kebanyakan kan masih hot-hotnya dalam umur perkawinan seperti ini. Kok yang dialami, lain sekali. Ibarat listrik, mestinya 220 volt, malah sudah tinggal 110 volt seperti listrik jaman Orde Lama.

Praptono mencari tahu, kenapa bininya jadi seperti itu. Apa perlu membentuk Pansus Bini Mogok Ranjang? Lalu siapa fraksi pendukungnya, wong dirinya bukan lembaga DPR. Pusing dah Praptono, sampai kepala muter seperti kena vertigo. “Lho, kenapa saya harus vertigo, wong saya bukan Ketua DPR?” kata batin Praptono.

Di kala hati dan jiwanya sedang galau dan gundah gulana, dia menemukan HP istrinya yang ketinggalan. Begitu dibuka, Praptono kaget sekela karena menemukan chatting istrinya pada seorang lelaki untuk berhubungan intim. Kini Praptono jadi terang benderang, ini to sumber masalahnya. Pantesan Santi tak mau melayani, wong sudah kenyang sampai glegeken di luar rumah.

Maka begitu ketemu istrinya langsung diinterogasi, menjawab 10 materi pertanyaan. Tapi semua jawabannya tidak memuaskan, intinya menolak adanya chatting semacam itu. Praptono pun jadi emosi. Santi langsung dihajar sampai babak belur. Ujung-ujungnya lelaki emosian itu jadi urusan polisi. Tapi Praptono memang sudah siap akan adanya kriminalisasi suami ini.

Beberapa bulan ditahan, Praptono disidangkan di PN Tarakan. Hakim sebetulnya menyilakan terdakwa damai saja dengan saksi korban. Tapi dia sudah bersikukuh untuk menceraikan. Lebih baik dipenjara, ketimbang harus batal cerai dengan istri yang pengkhianat suami. Akhirnya Praptono divonis 4 bulan penjara.

Kalau napi korupsi, Praptono pasti dikunjungi Pansus Angket KPK. (JPNN/Gunarso TS)