Sunday, 19 November 2017

Berburu Hutan Belantara Ganti Bini Sampai Tiga Kali

Rabu, 12 Juli 2017 — 7:40 WIB
gersang

BILA menikah bukan berdasarkan cinta, ya seperti Panjul, 38, ini. Begitu mudahnya dia menceraikan istri-istrinya, hanya karena tak ada “hutan belantara” di daerah kewanitaannya. Maka tiga kali menikah, tiga kali pula bercerai. Panjul terus mencari, tapi dapatnya gundul melulu, yang katanya bawa sial.

Cinta itu sesungguhnya mau berkorban, dan menerima apa adanya orang yang dicintai. Biar pasangannya buta, pincang, atau bongkok, karena kadung cinta tetap dijadikan suami/istri hingga kakek nenek. Beda dengan perkawinan yang latar belakangnya hawa nafsu, ketika kendaraan itu tak nyaman lagi dikendarai, buru-buru dibawa ke show room untuk tukar tambah.

Ternyata Panjul warga Jojoran Surabaya ini termasuk lelaki yang suka main-main dengan lembaga perkawinan yang sakral itu. Baginya nikah sekedar legalitas untuk hubungan intim. Jika tak dicapai kepuasan urusan satu itu, langsung saja diceraikan dan berfikir mencari bini baru sebagai pengganti.

Agaknya Panjul memang sosok lelaki yang punya kelainan. Dia sangat mendambakan bini yang tak sekedar cantik luarnya saja, tapi sampai dalam-dalamnya sekalian. Dia ingin istri yang memilik “hutan belantara” atau alas gung liwang-liwung yang banyak macan dan babi hutannya. Itu sudah menjadi harga mati, karena memang begitulah fantasi seksualnya.

Tapi rupanya Allah Swt hendak melehke (permalukan) Panjul yang tak mau menerima apa adanya makhluk ciptaan-Nya itu. Maka ketika menikah pertama kali dengan Tanti tahun 2006, dia langsung kecewa ketika di malam pertama menemukan istrinya gundul macam hutan korban penebangan liar. Hanya 3 bulan dia menikahi Tanti dan langsung dicerai.

Tahun 2007 Panjul kembali nikah lagi dengan gadis Wara. Eh, lagi-lagi ketemu yang gundul, seperti ban mobil yang bertahun-tahun tak pernah ganti. Dia mencoba menerima nasib dengan mencari solusi, misalnya menggunakan ramuan “si raja kumis”. Tapi karena bukan tempatnya, usaha itu gagal total. Tak mau ambil pusing, tahun 2010 Wara didepak dari rumahtangganya.

Tahun 2014 setelah sekian lama jomblo, Panjul mendapatkan jodohnya kembali. Tapi ketika paket itu dibuka lagi tengah malam, yaaah…… ternyata Lilik gundul lagi. Kalau hutan, pastilah ada pihak yang terlibat illegal loging. Tapi karena ini bukan hutan, harus menyalahkan siapa? Tiga tahun selalu bergundul ria, menjadikan Panjul jenuh juga, sehingga Lilik pun didaftarkan ke Pengadilan Agama Surabaya untuk diceraikan,

Majelis hakim pun kaget atas alasan Panjul menceraikan istrinya. Tapi meski sudah dinasihati panjang lebar, dia tetap ngotot alkhotot untuk membebaskan Lilik dari ikatan rumah tangganya. Di luar sidang dia mengaku, kata paranormal yang pernah ditemui, jika kehidupan Panjul selama ini banyak mengalami sial, itu adalah dampak dari istri yang tak memiliki hutan tropis maupun mangrove. “Jadi ngedroplah, karena kesannya seperti kencan sama bayi.” Kata Panjul berterus terang.

Tanya dong ke Kantor Kehutanan, bagaimana caranya reboisasi itu. (JPNN/Gunarso TS)