Sunday, 22 October 2017

KOPERASI BULO

Kamis, 13 Juli 2017 — 5:56 WIB

Oleh H. Harmoko

BULO, apa itu? Badan Usaha Lorong. Digagas oleh Walikota Makassar, Mohammad Ramdhan Danny Pomanto, program ini mewarisi nilai-nilai koperasi yang dijalankan dengan prinsip kekeluargaan dan kebersamaan. Saatnya perkoperasian di Indonesia bangkit.

Lewat program itu, masyarakat diarahkan untuk bersuka rela bekerja sama menyemai bibit cabai, menanam, merawat, hingga memanen hasilnya. Sudah 700-an BUlo tersebar di lorong-lorong Makassar, beberapa di antaranya telah panen perdana. Hasilnya dinikmati oleh petani setempat.

Sebagaimana bisa kita simak di media massa, BULo sebagai gerakan koperasi beranggotakan masyarakat lorong. Program ini merupakan kelanjutan dari program Longgar (Lorong Garden). Masyarakat yang telah sukses mengubah wajah lorongnya menjadi Longgar pun menanam cabai vertikal di lorong-lorong.

Pemkot setempat melalu dinas teknisnya menyediakan bibitnya. Cabai hasil panen kemudian dibeli oleh Pemkot Makassar. Uniknya, 30% dana dari hasil penjualan cabai itu ditabung dalam bentuk deposito pendidikan anak lorong, sehingga anak-anak dapat mengenyam pendidikan hingga ke bangku perguruan tinggi.

Selain itu, yang 30% digunakan untuk mengembangkan UKM. Harapannya, UKM yang bertumbuh pesat dapat menjanjikan peluang usaha bagi warga untuk menekan angka pengangguran. Sedangkan yang 40% dikembalikan kepada warga, bisa untuk konsumsi rumah tangga atau untuk memenuhi kebutuhan lainnya.

Program itu mampu membangkitkan perekonomian kerakyatan di Indonesia, selain sebagai gerakan multi efek untuk menekan laju inflasi. Jauh sebelum harga cabai naik tak terkendali, Walikota Makassar menggagas penanaman cabai di lorong-lorong. Tiga bulan kemudian, hasilnya terbukti bisa menekan inflasi.

Oleh karena itulah, tidak salah ketika pemerintah menunjuk Makassar sebagai tuan rumah peringatan Hari Koperasi Nasional, 12 Juli kemarin. Agenda Harkopnas 2017 berlangsung hingga 16 Juli, berupa serangkaian ekspo koperasi nasional dan internasional.

Di tengah tata kelola ekonomi nasional yang liberal, Badan Usaha Lorong tentu sangat menginspirasi perlunya menghidupkan kembali sistem koperasi sebagai soko guru perekonomian nasional. BULo adalah bukti bahwa koperasi bisa menggerakkan perekonomian masyarakat.

Beberapa tahun lalu, di Wonogiri, Jawa Tengah, juga digalakkan program koperasi simpan pinjam pada setiap RT. Setiap RT di Wionogiri wajib memiliki badan usaha koperasi. Para anggota baik yang kaya maupun yang kurang mampu wajib meminjam. Dengan begitu, perputaran keuangan koperasi pun tumbuh. Entah bagaimana nasibnya koperasi itu, lama tidak terdengar lagi.

Dari waktu ke waktu, tata kelola koperasi di Indonesia selalu menghadapi pasang surut. Data di Kementerian Koperasi dan UKM menyebutkan, jumlah koperasi di Indonesia sebenarnya mencapai 212 ribu, tetapi yang aktif hanya 52 koperasi.

Dalam kondisi seperti itu, di tengah sistem liberal, bagaimana koperasi bisa menjadi soko guru perekonomian nasional? Karena itulah, kita membutuhkan orang-orang kreatif seperti Walikota Makassar itu, agar koperasi bisa benar-benar hidup untuk mengangkat kesejahteraan rakyat. Selamat berjuang! ( * )