Tuesday, 25 July 2017

Mengaku jadi Anggota TNI Ingin Naik Janda Gratisan

Kamis, 13 Juli 2017 — 5:52 WIB
begini

SAMPAI tahun 1970-an, dengan ngaku TNI orang bisa naik bis dan KA gratisan. Sekarang, Sarjan, 40, dengan mengaku TNI berpangkat kapten, mencoba “naik” janda gratisan. Tentu saja warga tersinggung. Akhirnya TNI abal-abal itu nyaris babak belur dikeroyok warga, karena ketika mau dikroscek ke kesatuan malah kabur.

Meski gaji TNI itu relatif kecil, banyak orang desa yang ingin bersuamikan tentara. Ternyata peluang ini dimanfaatkan orang-orang yang berjiwa penipu. Dengan mengenakan seragam TNI yang dibelinya di tukang loak, jadilah seseorang berpenampilan seperti prajurit sapta margais. Padahal aslinya orang ini sekedar lelaki nylekuthis (tak punya malu).

Kelakuan Sarjan, lelaki dari Jember ini seperti itu. Aslinya dia ini penganggur tertutup, dalam arti tak punya pekerjaan tetap. Tapi sebagai lelaki normal, dia juga mudah tertarik pada wanita cantik, tanpa mau berfikir: jika dianya bersedia, mau dikasih makan apa? Sebab perempuan cantik dan jelek itu tak maulah jika hanya dijamin bonggol tanpa benggol menyertainya.

Di Lengkong, Kecamatan Mumbulsari, Kabupaten Jember, tinggalah mbok randa dadapan, eh……janda cantik bernama Sri Lestari, 40. Karena dia memang pandai mematut diri, penampilannya bisa nampak 10 tahun lebih muda. Saat usia 30 penampilannya seperti 20 tahun saja. Saat usia 20 tahun, tongkrongannya seperti 10 tahun. Bagaimana ketika usia 10 tahun, apakah Sri Lestari seperti bayi baru lahir?

Nggak tahulah, seperti apa Sri Lestari saat usia 10 tahun tersebut. Yang jelas, pada penampilan usia 40 tahun sekarang, hal itu membuat lelaki bernama Sarjan selalu gundah gulana dilamun asmara. Dia ingin sekali bisa mempersuntingnya. Tapi dengan status sebagai pekerja serabutan, mana sudi Sri Lestari bersuamikan dirinya.

Tiba-tiba di benak Sarjan muncul gagasan konyol, jadi TNI gadungan saja. Cara ini sangat memungkinkan, karena postur tubuh Sarjan memang atletis, rambutnya cepak pula. “Kayaknya, dalam usia seperti ini paling cocok saya harus jadi TNI berpangkat kapten anumerta,” kata batin Sarjan, maklum dia tak tahu persis kepangkatan di TNI.

Entah dapat duit dari mana, Sarjan berhasil memiliki seragam TNI berpangkat kapten di tukang loak. Penampilannya memang meyakinkan. Ketika dia berhasil berkenalan dengan janda Sri Lestari, sepertinya perempuan itu memberikan angin segar. Sebab “kapten” Sarjan memang cukup tampan, pintar bicara, santun dan seiman pula. Bukti nyata, ketika dia pura-pura kemalaman, malah dipersilakan nginep.

Bak orang ngantuk disorongkan bantal, Sarjan tak mau melepaskan kesempatan emas itu. Dia yang awalnya tidur di kamar sendiri, diam-diam menyusul tidur di ranjang yang sama dengan janda Sri Lestari. Tidur berdua tak ada penolakan, akhirnya janda itu ditidurinya sekalian. Ternyata si janda merem melek keasyikan.

Lain hari dengan pakaian yang sama, kembali “kapten” Sarjan nginep lagi, dan kelonan lagi. Lama-lama tetangga jadi curiga. Ini kok ada tentara kok tiap malam tidur di rumah janda, tentara desersi, kali ya? Penggerebekan pun dilakukan. Sarjan mengaku berdinas di Pasipam Ops Denma Divif 2 Kostrad. Mana KTA-nya? Jawab Sarjan enteng saja, ketinggalan.

Warga mulai curiga. Sebab ketika mau diantar ke kantor kesatuannya, malah berusaha kabur dengan sepeda motornya. Langsung kapten gadungan itu dikeroyok, sampai kemudian Pak Kades mengamankannya dan menyerahkannnya ke Polsek Mumbulsari.

Tentara kok tak tahu anumerta, karena cuma modal “anu” sih. (JPNN/Gunarso TS)