Friday, 17 November 2017

Siswa dan Sepeda Motor

Kamis, 13 Juli 2017 — 5:43 WIB

SISWA yang belum mengantongi SIM bila berangkat sekolah sebaiknya tidak mengendarai sepeda motor. Langkah ini untuk meminimalisir angka kecelakaan yang lumayan banyak menimpa kalangan pelajar.

Imbauan Kasat Lantas Polres Jakarta Timur, AKBP Sutimin, saat memberikan pemahaman kepada siswa seputar tertib berlalulintas pada Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) di SMKN 26 Rawamangun ini menarik untuk diperhatikan baik oleh guru, pelajar itu sendiri maupun orangtua.

Apalagi sesuai dengan data Korlantas Polri, dari masa ke masa tren peningkatan kecelakaan di jalan raya cukup tinggi. Misalnya pada 2016 hanya rentang waktu Januari sampai dengan September saja angka kecelakaan mencapai 80.157 kejadian .

Dari 80.157 kejadian ini, jumlah kecelakaan yang melibatkan motor roda dua sudah mencapai 71.616 kendaraan. Parahnya lagi, bila dirunut berdasarkan usia, rata-rata yang menjadi korban kecelakaan adalah pengendara dengan rentang usia mulai 15-19 tahun. Adapun berkaitan dengan usia di bawah umur, rata-rata usia sekolah yang duduk di bangku SMP dan SD.

Melihat fakta ini sudah seharusnya bila sosialisasi ala Lantas Polres Jakarta Timur digelorakan , diikuti dan dimaksimalkan petugas kepolisian di kota lainnya untuk memberikan pemahaman perlunya tertib berlalulintas. Sosialisasi bukan pada saat MPLS saja, tetapi bisa dilakukan pada kesempatan lain.

Berkoordinasilah dengan pemerintah daerah atau sekolah agar bisa maksimal mensosialisasikan tentang tertib berlalulintas. Kita tidak bisa menutup mata bahwa banyak siswa yang belum cukup usia alias tidak mengantongi SIM sudah mengendarai motor. Dengan demikian tentunya pemahaman seputar tertib berlalulintas masih terbatas.

Memuluskan sosialisasi pemahaman berlalulintas di kalangan siswa tentunya bukan menjadi kewajiban atau tanggungjawab polisi maupun guru semata, tetapi perlu dukungan orangtua untuk tidak membiarkan anaknya yang belum mengantongi SIM berkendaraan. Jangan sampai menyesal belakangan karena membiarkan anak berkendara, sehingga terlibat kecelakaan fatal.

Bukan itu saja untuk mengurangi siswa berangkat sekolah mengendarai motor, Pemda tidak bisa berpangku tangan. Misalnya selain memperbanyak bus-bus sekolah gratis, dinas terkait juga bisa mempermudah siswa mendapatkan angkutan umum lingkungan yang murah dan nyaman.

Berdasarkan penulusuran, tidak jarang orangtua yang terpaksa membiarkan anak mengendarai motor ketika berangkat sekolah, karena pertimbangannya demi mengirit ongkos transportasi. Sebab bila naik angkutan umum lingkungan biayanya dirasa berat. Maklum beban hidup warga saat ini semakin berat. @*