Monday, 20 November 2017

Utut: Indonesia Gudangnya Bibit Catur, Ngenes Kalau Dibiarkan

Jumat, 14 Juli 2017 — 19:34 WIB
Utut Adianto saat memaparkan soal masalah catur. (rizal)

Utut Adianto saat memaparkan soal masalah catur. (rizal)

JAKARTA (Pos Kota) –  Indonesia merupakan gudangnya bibit pecatur. Tapi, bibit-bibit itu belum tersentuh dan digarap  secara maksimal. Untuk itu diperlukan kerja yang serius dari berbagai elemen untuk membina bibit agar bisa menjadi bibit unggul.

Hal itu dikatakan Ketua Plt Ketua Umum PB Persatuan Catur Seluruh Indonesia (PB Percasi), Utut Adianto kepada wartawan dalam jumpa pers soal kerjuarnas dan Munas  Percasi yang mengambil tema ‘Bangkit Catur Indonesia’, di Hotel Atlet Century Park Jakarta, Jumat (14/7/2017).

“Bibit pecatur Indonesia ribuan banyaknya. Ibarat menyerok ikan di kolam. Banyaknya bukan main. Jadi kita tidak kekurangan bibit. Ngenes juga jika bibit pecatur itu dibiarkan begitu saja,” Utut.

Grand Master ini, di daerah-daerah cukup banyak pecatur yang berbakat. Untuk menjadikannya  bibit pecatur itu sukses, maka diperlukan dana dan penaganan yang serius mulai sejak dini.

Di kalangan masyarakat, lanjut Urut, ada anekdot, bahwa menjadi pecatur itu tidak menghasilkan uang. Itu adalah pengertian yang salah.  Sebab, katanya, apa bila seorang pecatur sudah di level nasional dan internasional, uang akan datang sendiri.

“Biasanya seorang pecatur itu datang dari orang miskin. Seperti saya, menjadi pecatur dari keluarga miskin. Coba anak orang kaya main catur, maunya menang terus. Kalau anak orang miskin, maka dia akan berjuang untuk menang.” katanya.

Terkait itu, maka PB Percasi pun menggelar Kejuaraan Nasional Catur ke-46  pada 16-22 Juli 2017 di Puncak, Bogor. Melalui kejurnas ini, PB Percasi bertekad untuk mencetak pecatur-pecatur Indonesia bergelar Grand Master yang mampu bersaing di tingkat dunia.

“Kita punya potensi yang dahsyat di catur. Hanya saja selama ini belum digarap maksimal. Saat ini kita kalah bersaing dengan negara-negara yang dahulu di bawah India. Misalnya saja dari India dan Cina. Tahun 1986 saya meraih gelar GM, kedua negara tersebut belum memiliki satu pun pecatur bergelar GM. Tetapi sekarang India sudah punya 48 GM, kemudian Cina mungkin punya 30 GM. Sementara kita baru punya 7 pecatur bergelar GM, beberapa di antaranya sudah wafat,” kata Utut Adianto.

Menurut Utut, Indonesia tidak pernah kekurangan pemain-pemain berbakat. Sekarang saja, ada beberapa pemain muda potensial yang mulai mampu berbicara di ajang catur internasional. Sebut saja Fide Master (FM) Novendra Priasmoro yang berhasil menjadi juara di Kejuaraan Catur Yunior Asia, awal bulan lalu. Selain sukses meraih gelar juara, dalam event tersebut Novendra langsung meraih gelar Master Internasional sekaligus norma GM pertama.  (rizal/win)