Sunday, 19 November 2017

Sering Dijamu Makan Malam Malah “Makan” Bininya Pula

Sabtu, 15 Juli 2017 — 6:44 WIB
ente

JIKA ada oknum polisi tak tahu berterima kasih, salah satunya adalah Mukanto, 34, yang bertugas di Polsek Singosari, Malang. Sering dijamu makan malam di rumah informan Dalijo, 44, eh….akhirnya dia tega “makan” Sulastri, 31, istri sang informan. Tentu saja Dalijo ngamuk, sampai Mukanto kabur.

Di Kerajaan Singosari abad ke-12, ada kisah perselingkuhan antara istri majikan dengan bawahan. Dialah Ken Arok, yang naksir Ken Dedes, istri akuwu Tumapel, Tunggul Ametung. Seperti dikisahkan dalam buku “Pararaton”, bagaimana Ken Arok tak tergila-gila, selangkangan Ken Dedes ini mampu memancarkan sinar kemilauan laksana lampu LED di jalanan Ibukota (PJU). Dengan senjata keris Empu Gandring, Ken Arok berhasil memperisti Ken Dedes, meski keris itu kemudian makan banyak nyawa.

Nah, di Singosari masa kini, tepatnya Polsek Singosari Kabupaten Malang, ternyata ada juga oknum polisi yang kelakuannnya seperti Ken Arok. Terhadap bini orang, yang justru boleh dikata anak buah sendiri, eh….nafsu juga, padahal selangkangannya tak juga kinclong macam Ken Dedes. Dia berusaha dengan berbagai cara untuk bisa memiliki istri informan Dalijo.

Dalijo selama ini memang menjadi informan polisi. Setiap ada peristiwa kejahatan, Mukanto sering menggunakan jasa Dalijo untuk menyelidiki kasus-kasus kejahatan. Karena hubungan pekerjaan tersebut, Mukanto sering mampir di rumah Dalijo di Desa Ardimulyo, Kecamatan Singosari. Di sini dia sering pula disuguh makan malam, yang dihidangkan oleh istri Dalijo.

Istri Dalijo yang bernama Sulastri ini lumayan cantik, bodinya seksi pula. Rupanya ukuran celana oknum polisi ini langsung berubah manakala melihat bini Dalijo, lalu otaknya menjurus ke hal-hal yang kotor seputar urusan peranjangan. “Kalau aku mau, paling satu putaran pasti kena,” kata Mukanto yang biasa mengawasi Pilkada.

Diam-diam Mukanto mendekati Sulastri. Ternyata gayung bersambut. Ketika oknum polisi ini suka main colak-colek, bini Dalijo merespon positip. Misalnya, tangan Mukanto yang meraba-raba disingkirkan dengan santun, tidak dikipatke (dihentakkan). Oknum polisi ini menjadi makin berani, sehingga dia bertekad: setelah makan nasinya, harus makan pula orangnya!

Pura-pura melacak kasus kejahatan, Mukanto menugaskan Dalijo pergi ke suatu tempat, sementara dia malah isturahat di rumah sang informan. Padahal begitu Dalijo pergi, Mukanto menyelinap ke kamar dan mengajak Sulastri untuk menuntaskan nafsu birahi. Namanya juga barang colongan, aksi mesum itu diselenggarakan secara kejar tayang, tanpa selingan iklan segala.

Beberapa hari lalu kembali Mukanto menyuruh Dalijo menelisik kasus kejahatan. Dia segera masuk kamar dan berpacu dalam birahi. Tapi ketika dalam kondisi nanggung, eh…..Dalijo pulang lebih cepat, sehingga memergoki betapa Mukanto – Sulastri bergulat di ranjang antara hidup dan mati. Dalijo naik pitam, sehingga Mukanto pun dihajar sampai dia lari terbirit-birit.

Kasus ini ditangani Polsek Singosari sendiri, setelah Dalijo melaporkan ulah atasannya. “Kurang apa saya, sudah sering saya ajak makan di rumah, kok tega-teganya menggauli istriku. Khilaf katanya.” Ujar Dalijo.

Khilaf kok berulang kali. (JPNN/Gunarso TS)