Friday, 17 November 2017

Demi Bisa Sekolah Mancu Jadi Sopir Angkot

Senin, 17 Juli 2017 — 5:12 WIB
Mancu menjadi sopir angkot demi biaya sekolah. (sule)

Mancu menjadi sopir angkot demi biaya sekolah. (sule)

KU RELA pergi pagi pulang pagi hanya untuk mengais rezeki.
Doakan saja aku pergi semoga pulang dompetku terisi..!

Penggalan kalimat lagu Band Armada berjudul Pergi Pagi Pulang Pagi itu agaknya dirasakan sopir angkutan kota (angkot) dalam mengais rezeki.

Meskipun tak bekerja sehari-semalam, mereka rela menghadapi berbagai rintangan. Panas dan hujan sudah menjadi makanan sehari-hari.

Begitu pula yan dirasakan Mancu, 28, sopir angkot di Sukabumi, Jawa Barat tepatnya jurusan Cicurug-Cibadak.

Sedari duduk di bangku SMP, sekitar tahun 2.000, warga Kampung/Desa Tangil RT 01/02, Kecamatan Cidahu ini sudah menarik angkot jurusan tersebut.

“Iya, setengah hidup saya habiskan di jalan sebagai sopir angkot,” kata Mancu membuka pembicaraan, saat memperbaiki ban angkotnya, kemarin.

Mancu anak kedua dari sepuluh bersaudara ini bercerita, awal mula jadi sopir angkot hanya sekadar nyambi, cari tambahan buat biaya sekolahnya.

Dia sadar, keluarganya terbilang tidak mampu membiayai kehidupannya. “Sejak kelas 2 SD ayah saya sudah meninggal. Setelah itu, saya pernah jualan kresek dan kuli panggul di pasar dekat sini,” celotehnya.

Dia ingat betul, butuh perjuangan ekstra untuk bisa menjadi sopir. Kebetulan, saat itu tetangganya punya angkot. Hampir tiap hari dia mencuci mobil tetangganya itu sambil memberanikan diri belajar hingga akhirnya cukup mahir nyopir.

“Nah setelah dipercaya, saya ketika duduk di SMP sepulang sekolah akhirnya jadi sopir kadal atau tembak. Mobilnya punya orang, saya hanya kuli aja. Caranya saya nyetor tiap hari ke yang punya mobil,” kenang Mancu.

JADI PILIHAN

Setelah kelar membetulkan ban angkotnya, Mancu beristirahat sambil meneruskan cerita kehidupannya. Menjadi sopir angkot meskipun pendapatannya tidak tentu sepertinya sudah menjadi pilihannya. Bahkan, dari hasil keringatnya itu sedikit-sedikit bisa memberi rezeki kepada ibu dan saudara lainnya.

“Alhamdulillah, saya menamatkan sekolah SMK dan keluar pada 2008. Itu hasil sendiri menjadi sopir angkot,” tuturnya dengan nada bangga.

Selepas SMK, Mancu sebetulnya pernah mencoba bekerja di sebuah pabrik spare part di kawasan Bekasi. Namun, dia hanya bertahan enam bulan. Setelah itu, dia pulang dan menarik angkot kembali.

“Ya akhirnya sampai sekarang jadi sopir. Sudah ganti tiga tokeh (pemilik angkot). Ya jalani saja sampai sekarang. Mudah-mudahan sekarang fokusnya buat modal nikah,” ujarnya sambil tersenyum yang menargetkan menikah dua tahun lagi ini.

Selama belasan tahun menjadi sopir angkot, suka maupun duka pernah dirasakannya. Dukanya, pulang tak membawa uang karena buat setoran saja kurang sering dia rasakan. Dibentak, dipanggil pakai bahasa binatang oleh pengendara lain sudah jadi santapan.

“Tahu kan gimana sopir angkot. Demi penumpang kadang ngrem mendadak dan berhenti di mana saja. Dimarahi sama orang sudah biasa lah. Ya kalo sukanya kalau dapat uang banyak dan banyak teman di jalanan,” ungkapnya.

Saban hari, Mancu mulai menarik angkot sekitar 10 jam, mulai sekitar pukul 05:00 dan pulang pukul 15:00. Dia bisa menarik angkot sebanyak empat rit, dengan rata-rata pendapatan Rp350 ribu.

“Itu kotor ya dipotong setoran mobil Rp150 ribu, bensin dan lain Rp150 ribu. Ya paling bersih buat bawa pulang Rp20 ribu sampai Rp50 ribu. Tapi terkadang nggak ada atau malah lebih. Kalau macet paling dua rit sampai tiga rit,” tuturnya. (Eman Suleiman/ds)