Tuesday, 12 December 2017

NARKOBA DAN PERANG ASIMETRIS

Senin, 17 Juli 2017 — 4:54 WIB

Oleh H. Harmoko

SINYALEMEN banyaķ pihak tentang perang asimetris menggunkan narkoba bukan isapan jempol. Jajaran kepolisian berhasil membongkar penyelundupan 1 ton narkoba jenis sabu dari Cina, beberapa hari lalu di Anyer, Serang, Banten.

Pada diskusi di sebuah televisi nasional beberapa waktu lalu, Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo juga menyinggung soal Perang Candu yang bertujuan untuķ menaklukkan suatu bangsa. Dengan demikian, si negara penyerang tak perlu mengerahkan militer sebagaimana lazimnya perang simetris.

Sejarah juga mencatat, bagaimana pada tahun 1840—1842 Inggris dan Prancis melancarkan Perang Candu ke Cina. Perang nirmiliter ini ditandai dengan penyelundupan candu ke Cina. Membanjirnya candu ke Cina kala itu berdampak kepada melemahnya rakyat Cina.

Iya, candu memang memiliki pengaruh yang sangat merusak. Bukan tidak mungkin, perang model ini pula yang kini sedang terjadi di Indonesia. Perang asimetris sudah di depan mata. Dengan omset bisnis narkoba yang triliunan rupiah, akan mudah bagi pihak lawan menciptakan antek-antek di dalam negeri.

Keberhasilan taktik perang asimetris tergantung pada beberapa asumsi. Penggunaan unsur nonpemerintah, bahkan pelaku kriminal, biasa dilakukan untuk dapat memberi bantahan keterlibatan negara ketika serangan terbongkar. Bantahan ini penting agar negara tidak tercemar oleh dampak negatif akibat tindakan tersebut.

Pada tingkat tertentu, aparat negara penyerang justru menunjukkan itikad baik, seolah ikut membantu negara yang diserang. Dengan begitu, negara tersebut terhindar dari tuduhan melakukan serangan asimetris. Kalau tidak terbongkar, agenda dilanjutkan.

Ingat, Indonesia adalah negara kaya sumber daya alam. Banyak negara lain mengincar. Untuk melakukan serangan militer harus diciptakan alasan yang kuat. AS dan Cina sepertinya telah mencoba menghindari peperangan menggunakan militer. Butuh anggaran besar. Perang nirmiliter ditempuh.

Selain menciptakan ketergantungan ekonomi lewat pemberian utang, penyebaran narkoba dipilih untuk menghancurkan generasi muda. Dua hal itu diciptakan dengan membentuk antek-antek di dalam negeri agar serangan bisa efektif.

Tidak ada pilihan lain, kita semua harus selalu waspada. Perang asimetris sudah di depan mata. Antek-antek kepentingan asing bukan tidak mungkin sudah berada di sekeliling kita. Waspadalah! (*)