Sunday, 24 September 2017

Pelacur Asal Tiongkok Betah di Jakarta

Selasa, 18 Juli 2017 — 3:05 WIB
Ilustrasi

Ilustrasi

HIMPITAN ekonomi seakan menjadi alasan klise bagi seseorang untuk terjun ke dunia pelacuran. Tidak terkecuali Li Lie, 25, Pekerja Seks Komersial (PSK) impor asal Tiongkok di salah satu tempat hiburan di ibukota.

Kemiskinan yang dialami Li Lie di kampung halamannya di wilayah pesisir, Shen Zhen memaksa ia melangkahkan kaki ke Jakarta untuk menghidupi keluarganya.

Di temui Pos Kota, Li Lie yang bekerja sebagai terapis pijat plus di salah satu tempat hiburan kawasan Glodok ini, menceritakan duka hidup miskin keluarganya. Dengan bahas Indonesia yang terbata-bata, ia mengaku bahwa keluarganya bergantung hidup dengan hasil laut. “Keluarga saya nelayan,” ungkapnya.

Meski usia muda, wanita imut ini merupakan seorang janda anak satu. Suaminya pergi meninggalkannya begitu saja dengan alasan bekerja, hingga kini tidak pernah kembali.

Sebelum bertolak ke Indonesia, berbagai profesi diungkapkan Li Lie telah digelutinya. Mulai dari menjadi penjaga toko sampai tukang cuci. Sayangnya hal itu tidaklah cukup untuk menghidupi orang tua dan anaknya.

TARIF RP1, 2 JUTA

Melalui agen tenaga kerja ia ditawarkan untuk bekerja di Jakarta. Limpahan uang yang dijanjikan membuat ia tergiur menjalani profesi haram ini. Terlebih berdasarkan informasi bahwa di Jakarta banyak terdapat warga keturunan Tiongkok yang membuat makin yakin akan mudah beradaptasi. “Saya betah di Jakarta,” ucapnya.

Seluruh akomodasi ditanggung sang agen. Sesampainya di Jakarta iapun langsung dibawa untuk dilatih menjadi terapi. Untuk menggunakan jasa Li Lie, pelanggan harus merogoh kocek yang cukup dalam. Tarifnya Rp1,2 juta untuk sekali pijat berdurasi 2 jam. ‘Ongkos’ tersebut tentunya bukan hanya sekadar pijat, namun sudah termasuk biaya kencan.

Jumlah tersebut belum termasuk tips untuk sang terapis. Setiap pelanggan masih harus mengeluarkan uang tips sebesar Rp500 ribu kepada terapis plus-plus ini. Memang tidak murah, namun nyatanya Cungkok ini tetap menjadi primadona bagi pria ‘hidung belang’ untuk memuaskan nafsu syahwatnya. (ruh/st)