Sunday, 24 September 2017

Soal Jalan Kaki Orang Jakarta Malas

Selasa, 18 Juli 2017 — 6:10 WIB
motor-kaki

UNGKAPAN lama mengatakan: banyak jalan banyak yang dilihat. Tapi pepatah lama juga mengingatkan: berjalan peliharakan kaki, berkata peliharakan mulut. Sedangkan Gubernur DKI Djarot Saiful Hidayat mengecam, “Orang Jakarta malas jalan kaki, sehingga jalan beberapa ratus meter saja naik sepeda motor.” Apa yang terjadi kemudian, macettt cettt cettt…….

Di Jakarta ini, karena begitu mudahnya orang kredit sepeda motor, kendaraan roda dua di jalan raya sudah seperti cendol dawet, tapi tanpa juruh (cairan pemanis dari nira kelapa). Bila tahun 1970-an becak menjadi biang kemacetan, kini sepeda motor juga seperti itu. Karenanya Gubernur Ahok tempo hari melarang sepeda motor lewat Jalan MH Thamrin.

Sepeda motor memang bisa memanjakan pemiliknya, ke mana saja bisa dicapai asalkan duit pembelian BBM selalu tersedia. Tapi gara-gara sepeda motor, orang jadi malas jalan kaki. Mau ke mesjid untuk salat berjamaah, meski dari rumah hanya berjarak 300 meter saja, pilih werrrr……pakai sepeda motor. Lebih-lebih anak muda, hanya berjarak 200 meter, malas jalan kaki, pilih naik angkot.

Padahal jalan kaki itu merupakan sarana olahraga paling murah meriah. Badan sehat karena banyak jalan kaki. Setidaknya perut menjadi tetap rata. Maka jika Anda tak mau dicurigai sebagai koruptor gara-gara berperut buncit –atau memang koruptor tapi belum ketahuan–, banyaklah jalan kaki di pagi hari, niscaya Anda takkan dilirak-lirik KPK dan Kejaksaan.

Ungkapan lama mengatakan, banyak jalan banyak yang dilihat. Itu benar, meski harus diimbangi dengan kemampuan kantong. Pepatah lama juga mengingatkan, berjalan peliharakan kaki, berkata peliharakan lidah. Ini juga tak bisa dibantah. Gubernur Ahok misalnya, gara-gara ucapannya kalah dia dalam Pilgub DKI, bahkan masuk penjara pula.

Urusan jalan kaki memang bisa juga dijadikan komoditas politik. Amien Rais misalnya, dia pernah bernadzar siap jalan kaki Jakarta – Yogyakarta bilamana Jokowi terpilih jadi presiden. Ternyata sampai Jokowi menapaki tahun ke-3 pemerintahannya, Amien Rais tak pernah memenuhi nadzarnya.– gunarso ts