Monday, 11 December 2017

Mensyukuri Kemiskinan

Sabtu, 22 Juli 2017 — 6:58 WIB
orang

Oleh S Saiful Rahim

SUARA siulan yang melantunkan lagu “Nyok Nonton Ondel-ondel” menarik perhatian hadirin di warung kopi Mas Wargo. Semua pandangan spontan diarahkan ke asal suara siulan tersebut. Ternyata itu siulan Dul Karung yang disudahi ketika tiba di depan pintu dan dia mengucapkan assalamu alaykum.

“Kayaknya hatimu senang betul pagi ini. Banyak duit ya?” sambut orang yang duduk di dekat pintu masuk seraya bergeser.

“Apakah seseorang hanya boleh bersenang hati kalau duitnya banyak? Aku justru bersyukur karena di negara kita ini masih banyak orang miskin. Pertama, itu berarti aku berada di dalam kelompok mayoritas. Kelompok yang di dalam hukum demokrasi sama dengan kelompok yang menang. Dan menurut agama, agama apapun juga, orang miskin itu adalah salah satu kunci pintu surga. Jadi aku ini adalah salah satu kunci untuk masuk surga.”

Baru sampai di situ Dul Karung bicara, seseorang yang duduk di ujung kiri bangku panjang membentak.

“Jangan ngaco kau, Dul! Di negeri ini sudah banyak orang yang suka ngaco. Bicara sembarangan saja,” katanya sambil menggebrak meja sehingga beberapa gelas terpercik isinya ke atas meja.

“Maksud Bung?” tanya Dul Karung dengan nada heran.

“Mana ada agama yang mengatakan orang miskin itu salah satu kunci untuk masuk surga?” jawab orang itu dengan nada tetap tinggi.

“Tapi semua agama memerintahkan penganutnya menaruh perhatian yang tinggi terhadap orang-orang miskin. Menolong dan membantu mengentaskan kaum yang terhampar di debu itu adalah ibadah yang mulia. Dan puncak balasan untuk semua ibadah yang mulia adalah surga. Nah, bukankah ibadah yang mulia itu sama dengan kunci atau tiket untuk masuk ke surga?” kata Dul Karung membungkam lawan bicaranya.

“Nah, karena itu aku pikir kita harus bersyukur di dunia ini masih banyak orang miskin. Di negeri kita saja, menurut Badan Pusat Statistik, tahun ini masih ada 27,77 juta orang miskin. Itu kan berarti ada peluang sebanyak itu untuk kita bersedekah. Coba bayangkan bila semua orang kaya raya, Bung harus memikul uang dari rumah ke rumah untuk menemukan orang yang bersedia dan layak menerima sedekah. Padahal setiap pintu rumah yang Bung ketuk penghuninya keluar dengan niat menitipkan harta yang akan disedekahkan kepada siapa saja yang membutuhkan,” sambung Dul Karung membuat tiap orang yang mendengarnya termenung.

“Ah kau lebay Dul. Mana ada orang yang menolak rezeki. Sekaya apa pun seseorang bilamana disodorkan harta pantang dia menolak. Jangankan harta sedekah yang halal, harta yang diketahui haram pun ditelan juga. Lihat saja para koruptor. Semakin kaya dia atau semakin tinggi jabatannya, kian tinggi pula korupsinya,” tanggap orang yang duduk di ujung kanan bangku panjang.

“Betul itu. Karenanya ada baiknya usul yang entah disampaikan oleh siapa di warung ini dulu ada baiknya dilaksanakan,” saran orang yang duduk selang tiga di kanan Dul Karung.

“Maksudmu usul yang mana?” tanya orang yang duduk tepat di sebelahnya.

“Itu lho, usul agar para koruptor, lebih-lebih koruptor kelas kakap, jangan dihukum. Tapi berikan dia fasilitas dan, kalau perlu bantuan untuk bisa bekerja dan korupsi di luar negeri. Kalau para koruptor di dalam negeri menyembunyikan uangnya di luar negeri, maka koruptor di luar negeri pasti uangnya disembunyikan di dalam negeri. Setidak-tidaknya dikirimkan kepada para keluarga atau sanak saudaranya di dalam negeri. Kalau TKW atau TKI yang pekerja kasar saja bisa menjadi pahlawan devisa, apalagi koruptor yang digelari bandit berkerah putih, pasti penghasilan beliau jauh berlipat ganda,” jawab orang itu yakin dan meyakinkan.

“Nah, karena sudah banyak ide hebat yang dikeluarkan, maka kini ada minta izin keluar dari warung ini,” kata Dul Karung sambil meninggalkan warung begitu saja. (syahsr@gmail.com )