Sunday, 22 October 2017

ROKOK PENYEBAB KEMISKINAN

Senin, 24 Juli 2017 — 5:23 WIB

Oleh H. Harmoko

LAPORAN Badan Pusat Statistik menyebutkan, rokok merupakan penyumbang garis kemiskinan terbesar kedua setelah beras. Bagaimana ceritanya?

Begini. Tahun 1984 BPS untuk pertama kali melakukan penghitungan jumlah dan persentase penduduk miskin berdasarkan data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) modul konsumsi.

Setiap tiga tahun BPS mengeluarkan data kemiskinan yang disajikan menurut daerah perkotaan dan perdesaan. Lantas, mulai 2003 data kemiskinan dikeluarkan setiap tahun setelah data Susenas bisa dikumpulkan setiap bulan.

Bagaimana cara menghitungnya? Penghitungan mengacu pada pendekatan kebutuhan dasar. Komponen kebutuhan dasar ini terdiri atas kebutuhan makanan dan bukan makanan yang disusun menurut daerah perkotaan dan perdesaan yang diambil dari hasil Susenas. Ada 52 jenis komoditas makanan serta 51 komoditas bukan makanan (perkotaan) dan 47 komoditas (perdesaan).

Dengan pendekatan seperti itu, kemiskinan merupakan ketidakmampuan dari sisi ekonomi untuk memenuhi kebutuhan dasar makanan dan bukan makanan yang diukur dari sisi pengeluaran. Batasan dari sisi pengeluaran inilah yang disebut sebagai garis kemiskinan (GK).

GK terdiri atas garis kemiskinan makanan (GKM) dan garis kemiskinan nonmakanan (GKMN). Dalam menentukan GKM, perlu ditentukan penduduk referensi. Penduduk referensi adalah 20% penduduk yang berada di atas garis kemiskinan sementara (GKS). GKS diperoleh dari GK periode sebelumnya dan di-inflate dengan inflasi tahun berjalan.

Biarkan teknis penghitungannya kita percayakan saja kepada petugas BPS, termasuk sampai pada data bahwa rokok ternyata memiliki kontribusi terbesar kedua setelah beras sebagai penyebab kemiskinan.

Ketika seseorang yang dikatakan miskin mengonsumsi rokok, bisa jadi dia tidak miskin kalau saja mau mengalihkan pengeluarannya untuk membeli jenis komoditas makanan yang berkalori.

Nah, sebagaimana laporan BPS, sumbangan rokok pada GKM sebesar 8,08% (perkotaan) dan 7,68% (pedesaan). Data ini menjelaskan bahwa orang yang dikategorikan miskin ternyata banyak yang mengonsumsi rokok. Bukan berarti orang yang tidak miskin tidak merokok, tetapi bagi mereka pengeluaran untuk rokok sangatlah kecil dibandingkan dengan pengeluaran untuk barang-barang mewah lainnya.

Tahun 2015 saja, dari hasil Susenas, dapat dilihat bahwa penduduk berusia 15 tahun ke atas yang mengonsumsi rokok sebesar 22,57 persen di perkotaan dan 25,05 persen di pedesaan. Rata-rata jumlah batang rokok yang dihabiskan selama seminggu mencapai 76 batang di perkotaan dan 80 batang di pedesaan.

Sudah ketahuan seperti itu, masihkah kita membiarkan anggota keluarga kita mengonsumsi rokok? ( * )