Monday, 19 November 2018

Hujan Hambat Produksi Garam, Harga pun Melambung

Rabu, 26 Juli 2017 — 19:59 WIB
Ilustrasi

Ilustrasi

INDRAMAYU (Pos Kota) – Ratusan petani garam di daerah sentra produksi di Kecamatan Kandanghaur dan Losarang, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat mengeluhkan terjadinya gangguan cuaca yang  sering turun hujan sehingga dampaknya menghambat para petani memproduksi garam.

Pada bulan Juli 2017 ini kata Darmin, 49 salah seorang petani garam di Blok Tempalong, Kecamatan Kandanghaur,  sebenarnya termasuk pada jadwal produksi garam.

Karena masih sering terjadi turun hujan,  membuat para petani garam was-was atau ketar-ketir memulai usaha produksi garam secara tradisionil.

Sebagaimana dimaklumi kata Darmin, produksi garam di Kabupaten Indramayu itu seluruhnya  mengandalkan teriknya sinar matahari untuk mengubah suhu air asin di pematang garam menjadi gumpalan-gumpalan putih seperti kristal  atau yang disebut  garam. Apabila cuaca sering turun hujan katanya produksi garam otomatis terhenti.

Hujan sekali, kata Darmin, dapat menghambat para petani memproduksi garam selama empat hari hingga seminggu. Karena sifat air hujan itu menurunkan kadar air asin yang merupakan bahan baku pembuatan garam.

Sehingga. semakin sering turun hujan semakin  menyulitkan para petani dalam memproduksi garam. “Saat sekarang sudah ada beberapa orang petani yang memulaiproduksi garam, sekalipun hasilnya masih minim karena diganggu hujan,” katanya.

Minimnya produksi garam itu membuat harga jual garam melambung atau naik tajam menjadi Rp3.500 per kg. Harga itu berlaku di lokasi penggaraman. Kalau sudah berada di gudang, harganya bisa mencapai di atas Rp4.000 per Kg,  karena ditambah ongkos kuli angkut  dan biaya transportasi kendaraan.

Dampak minimnya produksi garam dirasakan ibu-ibu rumah tangga,  karena harga garam konsumsi rumah tangga  yang naik tajam. Menurut Darmin, sekalipun harga garam di pasar-pasar melonjak namun tidak menguntungkan petani selaku produsen garam.

Petani garam saat sekarang belum mempunyai stok garam. “Garam yang beredar di pasaran itu hasil produksi beberapa orang petani saja. Sedangkan produksi  garam secara massal belum terjadi, sebagian besar para petani masih ragu menyiapkan lahan penggaraman,” ujarnya.

Dikatakan, guna meningkatkan kualitas dan kuantitas produksi garam, pemerintah melalui Dinas Perikanan dan Kelautan Kabupaten Indramayu beberapa waktu lalu  memberikan bantuan kepada para petani garam di Kabupaten Indramayu. Pemberian bantuan dilakukan dalam bentuk natura atau barang dan sedikit uang tunai.

Bantuan itu tujuannya agar jumlah produksi garam meningkat dengan kualitas yang meningkat pula. Pada gilirannya Indonesia meraih sukses swasembada garam Nasional. Swasembada garam Nasional mengurangi ketergantungan impor garam, baik garam  untuk konsumsi rumah tangga maupun garam industri.

Melalui bantuan  pemerintah itu  diharapkan jumlah produksi garam meningkat tajam dan kualitas garam pun meningkat. Bantuan dari pemerintah dalam bentuk natura atau alat produksi garam seperti plastik Gio Isalator atau Gio Membran sebagai alas penutup tanah diharapkan meningkatkan kualitas dan kuantitas produksi garam.

Carman, 56 petani garam lainnya mengemukakan, penggunakan alas plastik Gio Isalator mampu meningkatkan produksi garam minimal 50 persen dari produksi garam manual  yang  menggunakan alas tanah.

Selain jumlah produksinya meningkat penggunaan alast plastik warna hitam itu juga dapat meningkatkan kualitas garam,  sehingga dampaknya harga jual garam ketika dijual tidak merosot yang pada akhirnya mengutngkan para petani garam.

Cuma masalahanya kata Casman, bantuan plastik Gio Esalator itu jumlahnya terbatas. Hanya diberikan kepada 10 orang petani garam saja. Sementara jumlah petani garam mencapai ribuan orang yang tersebar di Kecamatan Kandanghaur juga Kecamatan Losarang.

“Kalau kita beli sendiri alas plastik Gio Isalator ini harganya mahal mencapai Rp15 juta sehingga tidak terjangkau kantong para petani garam,” katanya. (taryani/win)