Saturday, 20 July 2019

Guru TK dan Pengawas TK-SD “Berkoalisi” di Kamar Hotel

Jumat, 28 Juli 2017 — 6:03 WIB
pukul

DI KALA musim partai berkoalisi terjadi, laki perempuan bukan suami istri pun berkoalisi dalam hotel. Hal ini dialami oleh guru TK Ny. Mujiati, 49, melawan Rahmanto, 53, pengawas TK-SD di Lamongan. Tapi ketika mereka sedang “esekusi”, eh ada razia Satpol PP, terbongkarlah skandalnya selama ini.

Orang Jawa punya pepatah: witing tresna merga saka kulina, yang mengandung makna bahwa cinta bisa tumbuh karena sering ketemu. Padahal jika sudah urusan cinta-cintaan, akal sehat sering tidak lagi jalan. Mereka jadi lupa akan kedudukan masing-masing. Yang penting cinta mereka tersalurkan. Ibarat partai, mereka sudah berkoalisi, sehingga harus dilanjutkan dengan eksekusi.

Hubungan antara Ny. Mujiati dengan Rahmanto memang berasal dari urusan dinas. Sebagai pengawas TK-SD, dia berkewajiban untuk mengunjungi sekolah-sekolah untuk supervisi. Karena ada sekitar 15 sekolah yang jadi tanggungjawabnya, maka baru dua minggu sekali dia bisa kembali mensupervisi TK tempat Mujiati mengajar.

Awalnya hanya bicara soal pekerjaan. Tapi karena Rahmanto memang supel orangnya, lama-lama bisa melebar ke mana-mana yang di luar kedinasan. Rupanya Mujiati juga bisa menikmati. Apa lagi Pak Pengawas TK-SD di Kecamatan Sekaran Lamongan ini orangnya ganteng, pintar bicara, santun dan seiman pula.

Maka ketika Rahmanto mulai menjurus ke hal-hal yang sensitip, Mujiati mengimbangi saja tanpa risih dan tersika. Dari situlah mulai tumbuh bibit cinta. Ibarat partai, mereka sudah siap berkoalisi karena PT (presidensial treshold) nol persen yang diperjuangkan gagal total. Tapi untuk sebuah perselingkuhan, jika koalisi tanpa eksekusi, itu sama saja makan sayur tanpa garam.

Sekali waktu habis supervisi, Mujiati diajak ke sebuah hotel di Lamongan kota. Eh, ternyata mau juga. Maka di situlah kali pertama koalisi dan eksekusi antara guru TK dan Pengawas terjadi. Jaman Orde Lama, pengawas itu disebut penilik. Dan di hotel ini pula, segala aset Mujiati ditilik dengan seksama dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.

Sebagai pengawas Rahmanto menjadi semakin giat manakala sedang supervisi ke TK Mujiati. Sebab habis supervisi, bisa langsung gunakan super tetra ketika keduanya memanjakan nafsu di hotel. Bukan Pak Pengawas menuduh Mujiati perempuan kotor, tapi ini dilakukan untuk menjaga dari berbagai kemungkinan.

Selama Mujiati-Rahmanto membangun skandal, selama ini lancar-lancar jaya saja. Tapi tak dinyana tak diduga, Bupati Lamongan menggalakkan program pembrantasan Pekat (penyakit masyarakat) dengan sasaran sejumlah hotel melati di wilahanya. Penjudi, pezinawan-pezinawati; kalau ada disikat habis melalui tenaga Satpol PP.

Mujiati-Rahmanto sama sekali tidak tahu kegiatan Satpol PP tersebut. Ketika keduanya sedang bercengkerama dalam hotel, eh……satpol PP mengadakan razia di hotel itu. Keduanya tak berkutik. Sempat mengaku suami istri, tapi karena tak mampu menunjukkan bukti surat nikah, akhirnya mereka dibawa ke kantor Satpol PP.

Dari situlah baru ketahuan bahwa keduanya dari unsur Dinas Pendidikan. Oleh Dinas Pendidikan Kabupaten mereka dapat sanksi keras, meski tidak sampai dipecat. Bisa jadi Rahmanto tak menjabat pengawas lagi, sementara Mujiati ditarik ke TU.

Jadi pengawas, yang diawasi malah yang lain-lain sih. (BJ/Gunarso TS)