Monday, 11 December 2017

Asinan yang Tidak Asin

Sabtu, 29 Juli 2017 — 5:33 WIB
lho

Oleh S Saiful Rahim

KETIKA Dul Karung memberi salam di depan pintu warung kopi Mas Wargo suasana warung seperti pasar burung. Bedanya, kalau di pasar burung terdengar selain riuh orang tawar menawar, juga suara kicau burung sahut menyahut.

Di warung Mas Wargo tak ada kicau burung. Hanya suara orang ramai mengomentari harga garam yang mereka anggap di luar nalar. Naik 300 persen!

“Bagian terbesar negeri kita ini adalah laut. Samudera!

Karena itu kita menyebut negeri ini tanah air. Negeri yang terdiri dari tanah dan air. Airnya bukan air keras seperti yang disiramkan ke wajah Novel Baswedan, tapi air laut. Nah, kalau pantai di negeri kitaadalah pantai terpanjang kedua di dunia, maka dengan sendirinya lautan kita bukan sebesar baskom.

Dan garam! Sebelum dilahirkan , kita sudah tahu bahwa garam itu dibikin dari air laut. Nah, air laut sebagai bahan baku utama garam, di negeri kita kan tinggal menyendok atau menangguk saja di pantai. Kok negeri kayak gitu bisa mengalami krisis garam.”

Demikian gerutu panjang lebar yang didengar Dul Karung sebelum duduk. Bahkan sebelum dia sempat melakukan tugas sakralnya yaitu mencomot singkong goreng yang masih kebul-kebul.

“Ini gara-gara Dul Karung dengan segala sanak pinaknya,” kata orang yang duduk di ujung kiri bangku panjang membuat Dul Karung terlonjak dari bangku.

“Lho kok aku yang baru datang kena timpukan dosa,” sangkal Dul Karung dengan mulut penuh singkong goreng.

“Dul… Dul Karung. Orang Jakarta sejak dilahirkan atau satu detik setelah Nabi Adam diciptakan Allah, hingga yang nanti wafat bareng pada hari kiamat semuanya doyan ‘asinan’. Artinya doyan garam…”

“Wah ngaco ni orang. Makanan yang namanya ‘asinan’ itu rasanya bukan asin, tapi asem. Kecut, kalau kata orang Jawa!”potong Dul Karung dengan nada tinggi.

“Lagi pula ‘asinan’ itu bukan makanan asli Betawi, tapi asli Bogor kan?” potong orang yang entah siapa dan duduk di sebelah mana.

“Bukan! ‘Asinan’ itu asli makanan khas Betawi. Dulu orang Betawi kalau jalan-jalan yang menurut istilah sekarang rekreasi, pasti tujuannya ke Bogor. Selain Bogor ideal untuk rekreasi karena nyaman udaranya, juga jarak tidak terlalu jauh dan yang istimewa di sana ada Kebun Raya.

Dulu orang Betawi menyebut bukan Kebun Raya, tetapi Kebun Raja. Sebab hanya raja sajalah yang bisa punya kebun seperti itu. Tidak peduli itu raja Sri Baduga yang berkuasa di sana pada zaman purba, atau Ratu Wilhelmina yang berkuasa di kerajaan Belanda nun jauh di utara, seberang samudera,” potong dan papar Dul Karung dengan panjang lebar.

“Tunggu dulu, Dul. Yang kau tuturkan ini fakta sejarah atau sekadar omongan asal bunyi?” tanya orang yang duduk di ujung kanan bangku panjang.

“Setahu aku sih benar. Kalau tidak percaya tanya saja JJ Rizal yang sejarawan beneran,” jawab Dul Karung sambil mereguk teh manisnya yang mulai mendingin.

“Sekarang menurutmu mengapa negeri kita mengalami krisis garam? Satu hal yang bukan-bukan saja,” tanya orang yang duduk selang tiga di kiri Dul Karung.

“Mana aku tahu. Tanya saja pada rumput yang bergoyang,” jawab Dul Karung seenaknya.

“Tapi kan kira-kira sebulan lalu di warung ini kau sudah menyinggung soal gejala krisis garam. Sekarang sudahkah kau mendengar ada pejabat atau kalangan berwenang yang memberikan
solusi krisis garam ini?” tanya orang itu lagi.

“Wah, gak tahu aku. Padahal kalau sampai garam susah didapat, sebuah pepatah Betawi bisa hilang dari sejarah. Kan dalam masyarakat Betawi ada pepatah, Asal bisa makan nasi sama garam,” kata Dul Karung seraya meninggalkan warung. (syahsr@gmail.com )*