Thursday, 24 August 2017

Menyiapkan Sepeda Motor Menjadi Angkutan Feeder

Rabu, 2 Agustus 2017 — 5:29 WIB

KEMACETAN lalu lintas kian meluas. Tidak saja terjadi di Jakarta, tetapi sudah meliputi wilayah Jabodetabek ( Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi). Ini sebagai imbas, salah satunya dari pertumbuhan kendaraan bermotor yang tidak sebanding dengan bertambahnya panjang/ luas jalan.

Kemacetan merambah ke daerah sekitar Jakarta karena sejalan dengan tumbuh berkembangnya pemukiman penduduk di Bodetabek yang diikuti dengan kian bertambahnya kepemilikan kendaraan bermotor di wilayah itu.

Lantas berapa jumlah kendaraan bermotor di Jabodetabek? Menurut data Badan Pengelola Transportasi Jabodetabek (BPTJ), pada tahun 2014 terdapat hampir 25 juta unit kendaraan, yang terdiri dari 18,5 juta sepeda motor dan 6,4 juta unit mobil.

Jika dihitung dari jumlah perjalanan, data BPTJ menunjukkan bahwa pada tahun 2015, total perjalanan di Jabodetabek mencapai 47,5 juta per hari. Dari jumlah itu hampir separonya, perjalanan dari Bodetabek menuju Jakarta.

Kondisi seperti dapat diartikan untuk mengatasi kemacetan lalu lintas di Jakarta tidak bisa dilakukan secara parsial, tetapi terpadu dengan daerah sekitarnya, mengingat Jakarta tidak bisa dipisahkan dengan Bodetabek dalam konteks penyediaan moda transportasi.

Satu upaya yang sedang digagas adalah memperluas pembatasan penggunaan sepeda motor di jalanan Jakarta. Saat ini kendaraan roda dua dilarang melintas di Jalan Merdeka Barat hingga Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat.

Ke depan akan diperluas lagi ke jalan tertentu. Boleh jadi ke Jalan Sudirman, Kuningan, MT Haryono. Bahkan, ada wacana sistem nopol ganjil genap untuk kendaraan roda dua.

Kami mengapresiasi segala upaya untuk mengatasi kemacetan lalu lintas agar tidak menjadi stagnan yang pada akhirnya merugikan semua pihak, baik dari pemborosan bahan bakar, energi dan dampak lingkungan.Tetapi yang perlu diperhatikan adalah dampak sosial dari pembatasan penggunaan sepeda motor. Jangan kemudian mengesankan rakyat kecil terpinggirkan.

Kita dapat memahami penggunaan kendaraan pribadi ( mobil dan sepeda motor) perlu dibatasi, diarahkan sebagai angkutan feeder, tapi penerapannya perlu dilakukan secara bijak dan bertahap. Sepanjang angkutan umum massal sudah memadai, pembatasan dapat dilakukan. Bahkan, tanpa pembatasan pun masyarakat akan meninggalkan kendaraan pribadinya, jika angkutan umum sudah tersedia dengan baik.

Sekarang sudah menjadi fenomena sepeda motor digunakan sebagai feeder menuju stasiun KRL dan bus TransJakarta/ Jabodetabek. Kita dapat saksikan puluhan ribu sepeda motor dititipkan di beberapa tempat yang berdekatan dengan stasiun KA. (*).