Tuesday, 13 November 2018

Budaya Gotong Royong Bukan untuk Korupsi!

Kamis, 3 Agustus 2017 — 6:48 WIB
gatot

DI seluruh suku di negeri ini, mengenal budaya gotong royong dengan istilahnya masing-masing. Maka Panglima TNI Jendral Gatot Nurmantyo berani pasang giri (buka sayembara), barang siapa bisa menemukan padanan kata “gotong royong” dalam Bahasa Indonesia, akan diberi hadiah Rp50 juta.

Sebagaimana kata Bung Karno, Pancasila yang terdiri dari 5 sila itu bisa diringkas menjadi 3 sila, yakni: 1. Sosio kebangsaan/nasionalisme, 2. Sosio kerakyatan/demokrasi, dan 3. Ketuhanan. Tapi dari Trisila tersebut, kata Bung Karno masih bisa diperas lagi menjadi satu kata, yakni: Gotong Royong. Kenapa disebut gotong royong, karena diakui atau tidak, kita dalam kehidupan sehari-hari tak bisa lepas dari kehidupan gotong royong.

Semangat gotong royong sudah menjadi karakteristik bangsa Indonesia. Sebagai mahluk sosial, kehidupan sehari-hari tak bisa lepas dan selalu bersangkut paut dengan individu yang lain. Tak lepas dari semangat kegotong-royongan. Saling mengisi dan melengkapi. Ane butuh ente, tapi ente juga butuh ane; begitu kata orang Betawi.

Di Indonesia, budaya gotong royong sudah demikian mengakar secara turun temurun. Kebersamaan itu setiap daerah istilahnya bisa beda, tapi tujuannya sama. Di Bali misalnya, disebut ngayah. Sunda istilahnya: sabiruyangan; Madura: song-osong lombhung. Di Jawa Tengah, Jatim, dan DI Yogyakarta lumrah disebut: gugur gunung atau sambatan.

Kata gotong royong sendiri, aslinya merupakan kosa kata Jawa, berasal dari kata gotong yang berarti diangkat dan royong berarti rame-rame. Dalam satuan kata kemudian mengandung makna kebersamaan. Dan ketika telah menjadi milik Bahasa Indonesia, semua suku di Indonesia mengenal istilah itu. Maka Panglima TNI pun berani buka sayembara, meski tanpa izin Kemensos. “Barang siapa bisa menemukan padanan kata “gotong royong” dalam Bahasa Indonesia, saya kasih Rp50 juta.”

Dengan gotong royong, semuanya menjadi ringan. Hemat anggaran dan hemat tenaga. Di pedesaan, semangat gotong royong masih begitu kental. Tapi di kota-kota sudah mulai punah. Masak-memasak diambil alih perusahaan katering. Pasang tarub, diambil alih penyewa tenda.

Tapi paling celaka, budaya orang kota yang meningkat justru gotong royong dalam hal korupsi uang negara. Banyak Pemda yang anggota DPRD-nya ditangkap KPK dan Kejaksaan, karena korupsi. Bahkan dalam proyek e-KTP senilai Rp5,9 triliun itu para politisi Senayan juga berkorupsi secara gotong royong. – gunarso ts