Monday, 23 October 2017

DI BALIK KASUS NARKOBA

Kamis, 3 Agustus 2017 — 6:54 WIB

Oleh H. Harmoko

ADA apa di balik gegap gempita pembongkaran kasus narkoba dan kejahatan siber di Indonesia? Dengan tidak mengurangi apresiasi kita terhadap kerja keras aparat BNN, Bea Cukai, dan Polri, kita dibuat penasaran ketika aparat negara secara atraktif menyebutkan bahwa pembongkaran kasus ini tidak terlepas dari bantuan pihak berwenang Cina.

Bisa saja itu pernyataan standar untuk menyebutkan kronologi penanganan perkara. Ini memang sudah lazim. Tetapi, ketika pernyataan itu disampaikan berulang kali dengan penekanan intonasi seolah untuk mempertegas, kita menjadi curiga tentang kemungkinan ada sesuatu di baliknya.

Kepenasaran dan kecurigaan ini muncul dalam bingkai kajian perang asimetris, perang nirmiliter yang kini sedang ngetren dibahas oleh banyak pihak. Sejarah sebenarnya telah memberi pelajaran: tahun 1840—1842 Inggris dan Prancis melancarkan Perang Candu ke Cina. Perang nirmiliter ini ditandai dengan penyelundupan candu ke Cina secara besar-besaran, untuk melemahkan rakyat Cina.

Keberhasilan taktik perang asimetris, sejarah juga mencatat, tergantung pada beberapa asumsi. Penggunaan unsur nonpemerintah, bahkan pelaku kriminal, biasa dilakukan. Ini penting, agar kalau pengiriman candu terbongkar maka negara bisa berdalih bahwa hal itu murni kriminal. Dengan demikian, negara dapat memberi bantahan atas keterlibatannya. Bantahan ini mutlak dilakukan, agar negara tidak tercemar oleh dampak negatif akibat tindakan tersebut.

Pada tingkat tertentu, aparat negara penyerang justru menunjukkan itikad baik, seolah ikut membantu negara yang diserang. Informasi pun diberikan kepada negara sasaran agat operasi untuk menggagalkan penyelundupan berjalan sukses. Ingat politik etik?

Politik etik alias politik balas budi, suatu kebijakan yang dilakukan oleh negara penyerang dengan cara memberi bantuan kepada negara yang diserang. Pada perang asimetris, hal ini pun berlaku.

Dengan cara begitu, negara penyerang terhindar dari tuduhan melakukan serangan asimetris. Padahal, dalam kasus narkoba, di balik penggerekan itu angka penyelundupan jauh berlipat-lipat dibandingkan dengan angka yang terbongkar (atau sengaja dibongkar, sebagai tumbal demi terjaganya nama baik negara penyerang).

Apa pun, kuncinya sebenarnya ada pada daya tahan dalam negeri kita. Tidak ada pilihan lain, kita semua harus selalu waspada. Perang asimetris ada di depan mata. Antek-antek kepentingan asing sangat mungkin sudah berada di sekeliling kita. Waspadalah! ( * )