Sunday, 22 October 2017

Beli Rokok Mahal Bisa Sewa Rusun Nunggak!

Senin, 7 Agustus 2017 — 5:35 WIB
rusun

UNTUK menampung korban penggusuran, Pemprov DKI banyak membangun rumah susun (Rusun) di lima wilayah Ibukota. Sayangnya, sejak tahun 2013 hingga 12017 sekarang ini, dari 23 rusun yang ada ternyata menunggak pembayaran hingga Rp32 miliar. Sekda DKI Saefullah pun heran, beli rokok sampai Rp600.000 sebulan bisa, tapi bayar sewa rusun Rp300.000 sebulan nggak mampu.

Rumah susun maupun apartemen mengingatkan orang pada kandang burung. Tinggal di ketinggian belasan meter, ruangannya begitu terbatas. Bedanya adalah, apartemen untuk tempat tinggal ekonomi mapan, ada juga untuk menyimpan WIL. Sedangkan Rusun menampung keluarga ekonomi lemah, khususnya korban relokasi di Jakarta.

Sejak era Jokowi dilanjutkan Ahok, korban relokasi ditampung di berbagai rusun dengan sewa Rp300.000 sebulan. Bagi para penghuni, ini sangat tidak adil. Di tempat semula tak bayar sepeserpun untuk hunian, sedangkan kini harus bayar. Padahal di lokasi baru, mereka harus mulai dari nol lagi untuk mengais rejeki. Karenanya penghasilan mereka pun rata-rata menurun drastis.

Maunya penghuni, tinggal di rusun mestinya gratis saja. Sebetulnya Pemprov DKI mampu untuk menggratiskan. Tapi hal ini secara tak langsung akan memancing penghuni liar masuk Ibukota. Sebab mereka punya andelan, “Nanti jika digusur kan dapat rumah susun gratis.” Jakarta bisa kehabisan lahan untuk membangun Rusun dan kaum urban semakin meningkat.

Maka sebagai penghuni yang bertanggungjawab atas aset negara, Pemprov DKI mewajibkan setiap penghuni membayar Rp300.000 saja sebulan. Tapi karena banyak di antara mereka pekerjaannya makin tidak jelas, akhirnya tak bisa membayar sewanya. Maka sejak tahun 2013 hingga kini, dari 23 Rusun seluruh DKI Jakarta kini tunggakan sewa telah mencapai Rp32 miliar.

Maka Sekda DKI Saefullah pun heran. Penghuni rusun mayoritas usia produktif. Tapi kenapa bayar sewa Rp300.000 sebulan tidak mampu? Padahal beli rokok sebulan habis Rp600.000 masih mampu juga. “Kurangi merokok, karena hidup ini tak bisa semuanya gratis,” kata Sekwilda Saefullah. – slontrot