Thursday, 24 August 2017

SINDROM SABDAPALON

Senin, 7 Agustus 2017 — 5:24 WIB

Oleh H. Harmoko

INI sebuah sabda yang disampaikan oleh pendamping spiritual Prabu Brawijaya V, raja terakhir Majapahit (1468-1560 M). Masa telah lewat, tetapi pesan yang terkandung di dalamnya bisa kita cermati pada era sekarang.

Adalah Sabdapalon, pendamping Prabu Brawijaya V itu, berbeda pemahaman keilahian dengan sang raja. Brawijaya V telah masuk Islam atas bimbingan Sunan Kalijaga, tetapi Sabdapalon punya pandangan lain. Keluarlah ucapan Sabdapalon tentang sesuatu yang akan menimpa tanah Jawa suatu saat kelak.

Simak Serat Sabdapalon pupuh 9:

“Warna-warna kang bebaya
angrusakken tanah Jawi
sagung tiyang nambut karya
pamedal boten nyekapi
priyayi keh beranti
sudagar tuna sadarum
wong glidihik ora mingsra
wong tani ora nyukupi
pametune akeh sirna aneng wana.”

(Bermacam-macam mara bahaya, merusak tanah Jawa atau Nusantara. Semua yang bekerja hasilnya tidak mencukupi. Pejabat banyak yang lupa daratan, pedagang selalu rugi, yang rajin bekerja hasilnya tidak seberapa, yang bertani tidak menghasilkan apa-apa, hasilnya terbuang percuma.)

Pada bagian lain, Sabdapalon bersumpah akan kembali ke tanah Jawa lagi pada lima abad kemudian, saat bencana melanda dan korupsi merajalela, untuk mengembalikan kejayaan tanah Jawa (atau Nusantara).

Kedatangan Sabdapalon itu bisa kita tafsirkan untuk mengembalikan akal budi, mengembalikan jati diri asli Nusantara yang terjajah secara budaya, politik, dan ekonomi yang membuat manusia Nusantara tak lagi berbudi pekerti.

Kita bisa cermati realita sosial dan politik dewasa ini, sebagaimana Sabdapalon juga pernah sebutkan pada pupuh 11 sbb:

“heru-hara sakeh janma
rebutan ngupaya mukti
tan ngetang anggering praja
tan tahan perihing ati
katungka praptaneki
pageblug ingkang linangkung
lelara ngambra-ambra
warading saktanah Jawi
enjing sakit sorenya sampun pralaya.”

(Huru-hara melibatkan banyak orang, berebut mencari kekayaan, tidak peduli aturan negara. Pedih hati tak tertahankan, tertimpa banyak masalah dan musibah. Penyakit menyebar ke seluruh tanah Jawa, pagi sakit sore meninggal.)

Sabdapalon adalah simbol kewaskitaan hidup di bumi Nusantara. Dia mengingatkan akan datangnya mara bahaya di negeri ini akibat diabaikannya akal budi. Semua kian terpapar di bumi Indonesia, sebagai sebuah sindrom yang akan meluluhlantakkan negeri ini. Masihkah kita mengabaikannya? (* )