Sunday, 22 October 2017

Jangan Lupakan Kampung

Rabu, 9 Agustus 2017 — 5:32 WIB
soes

BICARA soal kampung, yang terngiang di pikiran adalah daerah yang nun jauh di sana, jauh dari kota, jauh dari keramaian.Pun isinya yang serba kampung. Orang mengucapkan kata sindirin dan berkesan merendahkan, ”Kampungan Lu! atau Ndeso Lu!” kata Tukul.

Orang lupa, bahwa cikal bakal manusia kota yang sekarang jadi orang moderen sekalipun asalnya dari kampung. Kalau pun bukan dia, paling tidak kakek neneknya dari kampung.
Tapi, apapa pun kampung tetap jadi kenangan. Buktinya, setiap hari besar, Lebaran, Tahun Baru dan Natal, masyarakat berbondong-bondong pulang kampung.

Sekarang ini malah banyak orang kepingin tinggal di kampung dengan harapan bisa menikmati alam yang segar. Jauh dari kebisingan, hiruk pikuk, dan kemacetan.

Kampung, orang akan membayangkan, sawah yang luas, lapangan atau bulakan luas, bukit, lembah, gunung dan hutan yang lebat, asri dan banyak hewan di darat dan udara.

Nah, masalahnya adalah apakah yang dibayangkan masih ada sekarang ini? Bukankan, hamparan sawah sudah jadi pabrik, perumahan dan bangunan-bangunan lain? Bahkan saat ini yang namanya apartemen juga suda merambah ke kampung?

Seandainya bisa, ayolah pada menahan diri. Kalau itu lahan buat pertanian, tolong tidak dirambah untuk bangunan. Jika itu lahan untuk resapan, ya jangan dibangun gedung, kalau itu bukit dan hutan ya jangan digunduli, karena akan mengakibatkan banjir bandang. Kalau itu gunung, ya jangan dijarah, batu-batuannya, karena kalau ngamuk, ya manusia juga yang jadi korban.

Jadi, ya ayo lestarikan kampung kita. Paling tidak, agar anak cucu yang lahir di kota-kota besar bisa pulang kampung, mengenal sejarah orang tua mereka yang berasal dari kampung! – massoes