Monday, 18 December 2017

Foto ‘Perempuan Berniqab Keluar dari Toko Pakaian Dalam’ Picu Perdebatan

Kamis, 10 Agustus 2017 — 5:40 WIB
hijabbbb

BAGAIMANA sebuah cuitan yang bermaksud untuk ‘merayakan keberagaman’ mengakibatkan kehebohan di Kanada, sebuah negeri yang multikultural?

Ini dimulai di awal pekan ini saat seorang wartawan bisnis di sebuah radio, Michael Kane, mencuitkan pengamatan yang ia dapatkan di luar toko baju dalam perempuan di satu mal di Toronto, Kanada.

Ia menulis, “Saya hanya seorang wartawan: melihat dua perempuan berpakaian sopan dengan penutup kepala keluar dari toko Victoria’s Secret di Eaton Centre.”

Victoria Secret adalah merek pakaian dalam perempuan, yang cenderung seksi, dan dikenal dengan peragaan dengan model-model yang tampil seks

Kane kemudian mengatakan pernyataannya bermaksud untuk ‘merayakan keberagaman’ dan berdalih bahwa hal itu merupakan suatu ‘pengamatan yang riang’ dari kemajemukkan kehidupan multibudaya.

Tetapi ia menjadi sasaran kritik keras di Twitter.

Banyak yang mempertanyakan apakah melihat perempuan Muslim (demikian anggapan orang terkait subjek di posting itu) berbelanja pakaian dalam merupakan hal yang cukup menarik untuk diunggah di media sosial.

Sejumlah pengguna mulai merespons Kane dengan nyinyir, menggunakan ungkapan “saya hanya seorang wartawan” dengan nada mengejek di Twitter

Apakah kehebohan Twitter seperti ini memiliki efek positif atau negatif dalam perdebatan di masyarakat multikultural?

Penulis dan psikolog media asal AS Dr Pamela Rutledge mengatakan pada BBC Trending bahwa “Kane terlihat tak punya niat apa pun namun tidak peka”.

Da menambahkan ada risiko bahwa banyak kritik yang tertuju pada Kane justru dapat menutup pembahasan mengenai keberagaman. “Twitter tidak mendorong keberagaman, tapi membuat orang menjauh dari perbincangan sentimen yang sensitif secara politik atau ‘salah’,” katanya.

Kane menanggapi beberapa kritik. Kepada satu pengguna Twitter ia menjawab, “Pikiran Anda harus dihormati, tapi Anda terlalu banyak membahas saya. Saya pengamat. Tidak menghakimi. Saya sarankan orang tidak menghakimi.”

Ia berpendapat bahwa dia menyoroti dan merayakan apa yang ia gambarkan sebagai keberagaman di Kanada.

Meski cuitan aslinya tidak secara langsung menyebut perempuan Muslim sebagai orang yang ia lihat di pusat perbelanjaan tersebut, ia juga tidak mengoreksinya. Ia dituduh berprasangka dalam melakukan pengamatannya
Ini bukan pertama kalinya di Kanada bahwa perempuan Muslim dan lingerie -pakaian dalam seksi- memicu kontroversi.

Pada tahun 2012, karya foto seorang fotografer Kanada Sooraya Graham, diturunkan dari di Universitas British Columbia. Foto itu menggambarkan seorang perempuan dengan niqab dan abaya (penutup wajah penuh dan jubah panjang) memegang bra bergambar bunga saat melipat cucian.

Toko lingerie, tidak seperti stereotip yang ada, umum ditemukan di negara-negara Muslim. Dalam Islam, seks hanya dibolehkan bagi pasangan yang sudah menikah.

Baru-baru ini terbit sebuah panduan seks dengan judul “Paduan Seks Muslimah: Petunjuk Halal untuk Seks yang Luar Biasa”, ditulis oleh seorang perempuan Muslim untuk perempuan Muslim.

Akun Twitter Michael Kane tampaknya telah dinonaktifkan. Dr Pamela Rutledge menambahkan, “Saya tidak menyalahkan Kane karena menarik diri dari keributan. Ini jelas sebuah pertempuran yang tidak bisa dia menangkan.”(BBC)