Sunday, 22 October 2017

Main Hakim Sendiri Tindakan Primitif

Kamis, 10 Agustus 2017 — 8:00 WIB
bakar

BERAPA sih harganya amplifier bekas? Rp 2 juta juga tidak nyampai. Tapi hanya karena membela aset musola seharga itu, orang dengan teganya main hakim sendiri? Di Bekasi telah terjadi tindakan barbar seperti itu. MA yang dituduh mencuri amplifier di musola Al Hidayah, harus meregang nyawa karena dibakar massa.

Di negeri ini, ternyata orang pergi ke masjid dan musola tak melulu untuk beribadah pada Allah SWT. Manusia-manusia yang telah berkoalisi dengan setan, justru ke masjid untuk berbuat dosa, yakni mencuri. Di Masjid Al Islam Kaveling DKI Cipayung, Jaktim misalnya, yang namanya kotak amal, sepeda motor sampai sepeda jemaah sering disikat maling.

Di masjid dan musola yang lain juga bernasib sama, sehingga kini banyak pengurus mengunci tempat ibadah itu di luar jam-jam salat. Gara-gara ulah si maling durjana, tempat ibadah terpaksa dibuka secara terbatas. Sungguh ironis memang, tapi realistis.

Di Musola Al Hidayah di Desa Hurip Jaya, Babelan, Kabupaten Bekasi, rupanya juga terjadi kasus serupa. Dan nasib apes itu menimpa MA, seorang anak muda yang pekerjaannya menservis amplifier. Karena dia membawa amplifier dari musola, langsung dituduh sebagai pencurinya.

Dihasut sejumlah orang, masa pun jadi emosi dan MA dianiaya dan kemudian disiram bensin lalu dibakar hingga tewas. Kini para pelakunya sudah ditangkap. Meskipun mereka minta maaf, MA yang sudah almarhum tak mungkin kembali hidup.

Di era gombalisasi ini, kenapa manusia jadi mudah emosi? Masak hanya karena mencuri amplifier saja harus dibakar. Berapa sih harganya alat itu. Bagaimana hati nurani para pelakunya? Tidakkah mereka membayangkan, istri MA akan menjadi janda, satu anaknya akan jadi anak yatim. Dan ketika bayi dalam kandungan istri almarhum lahir, dia takkan menerima kasih sayang ayah, karena mati secara tragis.

Indonesia ini negara hukum, selesaikan segala masalah secara hukum. Janganlah main hakim sendiri, karena tindakan barbar adalah tindakan primitif seperti jaman jahiliyah. – slontrot