Thursday, 24 August 2017

MEMBANGUN KESADARAN

Kamis, 10 Agustus 2017 — 7:10 WIB

Oleh H. Harmoko

GEMPURAN serangan asimetris ke Indonesia oleh negara-negara lain semakin masif. Tidak lewat serbuan militer, melainkan melalui tahapan: infiltrasi nilai-nilai, cuci otak, penciptaan instabilitas (adu domba). Targetnya: memetik kekayaan alam. Sayang, banyak yang belum menyadarinya.

Karena tidak menyadari itulah, boro-boro melakukan perlawanan. Jangankan melawan, memersepsikan ancaman saja kita masih kurang tepat. Jangankan memersepsikan ancaman, ada ancaman saja, ya itu tadi, kita tidak menyadarinya. Lantas?

Dunia sebenarnya telah masuk era android war alias perang melalui android dan brain war alias perang pemikiran, perang otak. Target perang ini adalah otak individu seluruh warga negara. Strateginya bernama brain washing alias cuci otak. Senjata canggihnya sistem komunikasi dan informasi. Amunisinya adalah nilai-nilai. Nilai-nilai liberal-materialistik terus dibombardirkan.

Otak bangsa ini–dari individu hingga negara–dijejali khasanah pengetahuan dan paham yang membuat manusia Indonesia mengalami disorientasi. Ideologi dihancurkan. Konstitusi dibiaskan. Sistem kebudayaan diporak-porandakan. Hasilnya lebih hebat ketimbang bom nuklir.

Kita jadi ingat bagaimana, misalnya, kasus kolonialisasi di Timur Tengah oleh Prancis dan Inggris pada abad ke-19 juga dilakukan dengan pola dan strategi seperti itu. Ketika Inggris memutuskan ikut bergabung dengan Prancis menjajah negara-negara Arab, ada beberapa hal yang bisa kita catat.

Pertama, Prancis dan Inggris saling berbagi tugas: (a) mengumpulkan informasi, (b) menerjemahkan maklumat-maklumat, (c) mengumpulkan data, (d) melakukan tafsiran sejarah, kebudayaan, dan hal-hal yang terkait dengan tradisi.

Kedua, Prancis dan Inggris saling bertukar pikiran untuk membuat rekayasa penaklukan terhadap negara-negara Arab untuk menguasai minyak bumi. Hasilnya dibagi dua. Tak saja dalam bentuk wilayah, hukum, dan kekuasaan, tetapi juga pembagian ilmu-ilmu dan kitab-kitab langka yang kemudian diangkut ke Paris dan London.

Pola dan strategi seperti itu sangat efektif. Ketika minyak bumi di jazirah Arab kian menipis, pola dan strategi serupa pun diterapkan ke belahan dunia lain, termasuk Indonesia. Serangan untuk menguasai negara target tak harus menggunakan serbuan militer, melainkan melalui instrumen budaya dan nilai-nilai tradisi.

Dalam realita seperti ini, militer tak lagi berada di garda depan. Justru sebaliknya, rakyatlah yang di garis depan. Militer sebagai kekuatan cadangan. Bagaimana kita harus menerapkan strategi perlawanan? Tidak ada jalan lain, bangun kesadaran kolektif bahwa bangsa dan negara kita telah menjadi sasaran neokolonialisme.

Dengan memiliki kesadaran seperti itu, kita tidak mudah lagi diadu domba. Sebagai bangsa, kita memiliki sejarah dan nilai-nilai budaya sendiri, sehingga tidak harus mau didikte untuk mengikuti nilai-nilai bangsa dan negara lain.

Konsekuensi era global? Iya, tetapi itu tak berarti kita harus kehilangan jati diri, bukan? ( * )