Monday, 23 October 2017

Erotisme di Depan Pejabat

Jumat, 11 Agustus 2017 — 5:32 WIB

ATRAKSI erotis di hadapan sejumlah pejabat negara pada acara peluncuran buku Prof. Anwar Nasution, sontak membuat khalayak kaget. Betapa tidak. Acara seremonial ini diwarnai suguhan tari perut. Padahal acara itu dihadiri oleh tamu VVIP antara lain Wakil Presiden Jusuf Kalla, Menteri PUPR Basuki Hadimuljono dan sederet tokoh lainnya.

Sungguh ironis acara launching buku seorang pejabat negara, malah menampilkan tontonan eksotisme lekuk tubuh perempuan, seperti tontonan di tempat hiburan malam. Alhasil, bukan esensi acara ilmiah yang dibahas publik, malah tontonan erotis yang kini diperbincangkan dan menuai pro dan kontra.

Suguhan erotisme di Indonesia apalagi di acara resmi, memang tabu karena menyangkut budaya, etika dan moral. Menonton atraksi serupa di luar negeri saja bagi kalangan eksekutif maupun legislatif dianggap melanggar etika. Sebagai contoh, rombongan anggota DPR pada kunjungan kerja ke Turki tahun 2010 silam minta disuguhi tari perut. Buntutnya, mereka dipanggil oleh Badan Kehormatan DPR.

Pro dan kontra tontonan tari perut di hadapan Wapres JK ramai diperbincangkan publik, bukan tanpa alasan. Pertama, atraksi yang menonjolkan lekuk tubuh perempuan dan gerakan erotis, dinilai tak elok dan tidak etis dipertontonkan di acara resmi yang dihadiri pejabat, meski bukan acara kedinasan.

Kedua, dari sisi etika tentu kehadiran pejabat tinggi harus dihormati dan tidak pantas disuguhi hiburan atraksi erotis. Anggapan bahwa tari erotis adalah seni budaya dan bukan erotisme, tak perlu diperdebatkan. Karena masing-masing orang punya sudut pandang berbeda.

Yang jelas, tari perut tidak sesuai dengan budaya kita, selain juga tidak pas disuguhkan di acara-acara resmi. Masih banyak seni tari tradisonal dari berbagai daerah di Indonesia yang jauh lebih pantas ditampilkan. Kita justru harus bangga bangsa ini memiliki kekayaan budaya yang luar biasa.

Peristiwa ini hendaknya jadi pembelajaran, bahwa sebuah acara resmi jangan disamakan dengan arena hiburan yang justru merendahkan esensi acara tersebut, termasuk hadirin. Semua harus memberi contoh positif bagi generasi mendatang.**