Friday, 24 November 2017

Korban Gusuran Tunggak Sewa Rusun Dapat Hak Istimewa

Jumat, 11 Agustus 2017 — 18:07 WIB
Foto ilustrasi

Foto ilustrasi

JAKARTA (Pos Kota) – Pemerintah Provinsi DKI Jakarta memberikan keistimewaan bagi penghuni rumah susun sewa program relokasi atau penggusuan yang menunggak sewa. Gubernur DKI Jakarta, Djarot Saiful Hidayat mengatakan keringanan diberikan bagi warga yang tidak mampu melalui Bazis DKI Jakarta. Meski demikian bantuan tersebut tidak menghapus kewajiban membayar sewa.

Namun Djarot meminta keringanan tersebut diberikan secara tepat sasaran. Jika tidak, menurut Djarot hal itu akan menimbulkan kecemburuan bagi penghuni rusun yang lain.

“Yang tidak mampu betul-betul kaum duafa kami bantu, pasti kami bantu lewat Bazis. Jangan kemudian bisa mereka mereka yang tertib kemudian menjadi jeles cemburu bagi mereka yang enggak tertib, harus adil dong,” kata Djarot di Balaikota Jakarta, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jumat (11/8/2017).

Diketahui Dinas Perumahan Rakyat dan Permukiman DKI Jakarta menemukan dari 9.522 unit rusun yang menunggak iuran, 6.514 merupakan warga relokasi, sedangkan sisanya, 3.008 merupakan warga umum. Akibat tunggakan yang tersebar di 23 rusun di Jakarta itu, jumlah total tunggakan mencapai Rp.31.703.806.782.

Beberapa penyebab timbulnya tunggakan rusun diantaranya adalah penghasilan warga rusun dibawah UMP DKI, warga rusun relokasi sulit mencari pekerjaan dan besarnya denda tunggakan yakni 2 persen per bulan.

Pemprov DKI Jakarta sebenarnya memilikibprogram pelatihan keterampilan untuk penghuni rusun. Diharapkan dengan pelatihan tersebut warga memiliki keahlian sehingga dapat menambah penghasilan. Namun program tersebut belum berdampak secara ekonomi bagi penghuni rusun.

Sekretaris Daerah DKI Jakarta Saefullah mengatakan akan melakukan evaluasi terhadap program tersebut.

“Kita evaluasi terus. Semua SKPD sudah kita perintahkan untuk buat program pelatihan. Saya perintahkan Dinas Tenaga Kerja, Dinas Sosial, untuk memberikan pelatihan-pelatihan kepada masyarakat supaya mereka terampil, dapat kerja. Kalau bisa kerja, nanti itu udah pasti berdaya,” tandas Saefullah.

Namun menurut Saefullah, program pelatihan tersebut membutuhkan waktu yang yang lama. Karenanya hasil dari proses pelatihan tidak bisa langsung dirasakan penghuni rusun.

“Itu berjalan terus. Enggak bisa simsalabim memang, harus sabar, pelan-pelan,” pungkas Saefullah. (ikbal