Thursday, 24 August 2017

Uang Belanja 20 Ribu Sehari, Apa Suruh Makan Klender?

Jumat, 11 Agustus 2017 — 7:17 WIB
makanan

SUAMI paling hemat di Palembang pastilah Farid, 40, warga Seberang Ulu. Dalam sehari dia tega kasih uang belanja istri Rp 20.000,- tapi maunya makan enak. Hasilnya, ribut terus! Kata istri, biar cukup apakah harus makan kalender? Farid tak terima diledek istri seperti itu, sehingga Farida, 33, dihajar sampai babak belur.

Kata orang bijak, perkawinan yang berdasarkan cinta bisa lebih bahagia dan awet. Apa benar demikian? Teori itu jelas salah secara nyata. Biar cinta sama-sama selangit, jika tak diberi uang belanja cukup, istri pasti ngomel merepet-repet. Memangnya orang hidup hanya urusan di bawah perut? Isi perut juga harus terjamin. Banyak kasus perceraian juga karena urusan perut yang ditelantarkan.

Farid warga Seberang Ulu memang bekerja di PT Tempo. Tapi bukan yang penerbitan majalah atau usaha farmasi, melainkan dalam arti: tempo-tempo kerja, tempo-tempo nganggur. Kasarnya: pekerja serabutan. Jika dapat pekerjaan, dia bisa bawa sejumlah uang ke rumah. Tapi bila sama sekali tak ada obyekan, pulang ke rumah paling-paling bawa Rp 20.000,- Itu pun bolehnya pinjam teman.

Tapi anehnya, meski memberi uang sangat terbatas, maunya Farid makan yang enak. Dikasih lauk ikan asin, ngomel, padahal sekarang ikan asin pun jadi menu mewah karena begitu mahalnya garam. Paling aneh, meski belanja sangat terbatas, Farid bisa omeli istri: “Perempuan pemboros! Tak bisa atur uang belanja.”

Padahal sebetulnya Farid ini seperti pemerintah sekarang ini. Maunya banyak, anggaran terbatas. Farid idem ditto. Pengin makan pakai opor ayam atau rendang padang, tapi kasih uang belanja Rp 20.000,- sehari. Ini kan ibaratnya seperti RAPBN saja. Uangnya belum siap, tapi rencana anggaran begitu beraneka macam.

Padahal di era gombalisasi sekarang ini, jangankan uang Rp 20.000,- yang Rp 50.000,- saja dibawa belanja ke warung hanya dapat belanjaan tak seberapa. Maka ketika disalahkan suami terus, Farida menangkisnya dengan kalimat klasik. “Mau kamu tak kasih makan kalender? Kalender sih, Rp 20.000,- dapat dua, malah bisa dipakai setahun,” ledek Farida.

Beberapa hari lalu ribut kembali. Masalahnya lagi-lagi Farid minta makan enak, padahal kasih belanja monoton uang lembaran hijau gambar pahlawan nasional Sam Ratulangi. Ributlah mereka, sampai Farid mengusir istri dari rumah. Tapi begitu Farida berangkat, baru keluar pintu langsung dikejar dan kemudian dihajar. Tetangga melerai, sementara Farid terus ngeloyor pergi.

Dengan wajah simpang siur Farida mengadu ke Polresta Palembang. Dengan mengusung pasal KDRT, dia minta polisi segera menangkap suaminya dan dipenjarakan. Dihukum mati pun Farid, dia rela dunia akhirat, karena itu balasan orang yang aniaya terhadap istri.

Komnas HAM pasti mencak-mencak tuh. Masak gebuki istri divonis mati. (JPNN/Gunarso TS)