Monday, 21 August 2017

Gadis Panti Asuhan Dicabuli Pantesan Betah Membujang

Sabtu, 12 Agustus 2017 — 8:05 WIB
terlalu

SAMPAI usia 34 tahun Ngadiman belum juga menikah, dan sepertinya tenang-tenang saja. Nggak tahunya, pengurus panti asuhan di Surabaya ini hobinya mencabuli gadis-gadis penghuni panti asuhan. Setelah kenyang menggauli 9 gadis dari usia 15 hingga 21 tahun, baru terbongkar kedoknya. Pantesan……..

Lelaki sampai usia lebih dari 30 tahun belum juga belum menikah, banyak yang jadi penyebabnya. Bisa karena sedang mengurus adik-adiknya, bisa pula belum ketemu pilihan yang cocok, gara-gara terlalu selektif. Ada juga yang karena kemiskinan, sehingga tak menarik selera gadis masa kini. Paling parah jika keterlambatan nikah itu karena LGBT alias pengguna bencong.

Ngadiman yang menjadi pengurus yayasan panti asuhan di Ngagel Surabaya, tak jauh dari situ-situ juga. Hingga usia 34 tahun sekarang ini, dia belum juga punya istri, dan sepertinya tenang-tenang saja. Setiap ditanya teman-teman, jawabnya terkesen merendah, “Mana laku saya, wong tidak kaya, tidak santun dan tidak seiman pula,” kata Ngadiman sambil tertawa.

Ternyata kealiman Ngadiman itu menyimpan banyak misteri. Di sela-sela mengurus anak yatim piatu itu, dia punya aktivitas khusus, terutama merayu-rayu pada gadis ABG di panti. Ada yang diberi uang, diajak jalan ke mana-mana, termasuk menginap di hotel. Di hotel inilah ternyata Ngadiman sering menggauli anak panti asuhan yang dibawanya.

Karena di bawah ancaman, setelah berbuat para korban selalu merahasiakan kelakuan Ngadiman. Sampai kemudian ada yang memergoki, bagaimana dia memaksa dan menggauli para penghuni panti asuhan itu. Saksi mata itu pun kaget dan seakan tak percaya dengan apa yang dilihatnya. “Kelihatannya bermulut manis, ternyata iblis.” Kata warga.

Kasus ini dilaporkan ke pemilik yayasan dan kemudian dilaporkan ke Polisi. Dalam pemeriksaan Ngadiman mengakui, telah mencabuli 9 orang gadis panti asuhan itu. Tentu saja Ngadiman langsung ditahan, karena dikhawatirkan akan memakan korban-korban baru.

Kebiri saja, biar nyaho! (JPNN/Gunarso TS)